Pages

Keputusan

Dalam sebuah renovasi kecil di kantor, seorang anggota Board of Directors tiba–tiba memanggil pimpro renovasi rung rapat tersebut. “Saya tidak mau ruangan ini terbuka dan berkaca semua, tolong diganti dengan dinding, karena di ruangan ini harus ada ‘privacy’”.
 
PIMPRO dengan sopan mengatakan bahwa penggantian tidak bisa dilakukan lagi, karena biaya akan melampaui budget dan lagi pula ruangan tersebut sudah akan digunakan. Ketika angota dieksi tersebut semakin berang, pimpro menunjukkan perubahan-perubahan gambar yang sudah terjadi selama ini, bahkan sudah 8 kali. Di dalam hati pimpro bergumam, “Siapa suruh tidak ikut rapat?”
Pengambilan keputusan memang tidak bisa disepelekan. Pernahkah kita membayangkan betapa mahalnya biaya perubahan yang terjadi akibat keputusan yang tidak matang? Dapatkah kita meghargai  keputusan yang sudah di “ketok palu” dan tidak malah mementahkannya? Pernahkah kita mengatur diri, kelompok ataupun perusahaan, untuk meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan? Pernahkah mandat untuk mengambil keputusan kita tinjau kembali, revisi dan diperkuat, agar supaya efisiensi maupun pengembangan kemampuan manajerial tim kita berkembang? Bukankah bila kita ingin mengembangkan praktik bisnis yang baik bahkan terpuji, kita juga perlu mengelola manajemen resiko dan kemudian mengatur tata cara mengambil keputusan?
Keadaan bisa lebih parah lagi, bila di antara pihak mengambil keputusan, masing–masing bisa mementahkan keputusan yang lain. Salah satu sudah mau maju, yang lain mengatakan: “tunggu dulu!” Keadaan bagaikan ‘poco-poco’ ini bukan saja menghambat, tetapi jelas juga merugikan organisasi. Kita juga bisa melihat kejadian, setelah terjadi kesalahan, tim pemutus malah saling tuding, “buang badan” alias cuci tangan, dan masing-masing berteriak: “bukan saya”. Dalam situasi ini, kita tentu bertanya-tanya, bukankah dalam keadaan genting para pengambil keputusan perlu langsung merapatkan barisan, mengompakkan diri dan dan berpikir bersama menemukan jalan keluar, dan bukan malah membuat semua kelemahan terlihat dari luar? Menyadari bahwa pengambilan keputusan merupakan bagian integral dari lembaga tersebut, masihkah kita mengabaikan dan tidak mengaturnya?
Bagaimana dengan lembaga-lembaga pemerintah super penting, yang terasa belum siap menanggung resiko dan tangggung jawab atas keputusan beberapa miliar, sementara mereka harus bisa memutuskan dan mempertanggung jawabkan putusan yang nilainya puluhan bahkan ratusan triliun? Dinamika “corporate governance” ini, bukan menjadi tuntutan di negara kita saja, namun sudah menjadi tren global, yang tidak bisa ditawar tawar lagi, bukan saja oleh lembaga-lembaga bisnis saja, tetapi juga lembaga pemerintah, swadaya maupun para investornya juga.
Pentingnya misi dan patokan
Ada seorang teman yang berkomentar, “Di perusahaan ini, mengambil keputusan pengeluaran 5 juta saja, sama lamanya dengan pengambilan keputusan pengeluaran uang 10 miliar. “Keputusan yang bertele-tele tentu sama merugikannya dengan keputusan yang terburu-buru dan tidak matang. Dalam kondisi yang tidak menentu dan banyaknya kendala yang perlu kita hadapi, yang diperlukan sebetulnya adalah patokan bagaimana pengambilan keputusan ditata.
Seorang ahli manajemen mengemukakan patokan yang mudah diingat, bila kita ingin mengembangkan “corporate governance” yang baik yaitu: Culture, Leadership, Alignment, System dan Structure, disingkat CLASS. Perusahaan yang menginginkan efisiensi luar dalam, hanya bisa mencapainya dengan menetapkan standar, mulai dari gaya berpakaian, sikap keterbukaan pada pemimpinnya, bahkan sampai cara berkomunikasi setiap individu dengan orang luar. Lembaga yang mewakili rakyat, misalnya DPR, rasanya pun perlu menyebarkan visi dan misinya secara jelas, mengenai tata cara, tata karma serta gaya hidup yang dituntut terhadap anggota-anggotanya. Pengaturan mengenai mobil apa yang akan digunakan, suguhan makanan yang dipilih, produk dan gaya interior ruang rapat apa yang akan dimanfaatkan, kesemuanya perlu menggambarkan misi lembaga. Kita sudah melihat bahwa tidak pahamnya anggota kelompok, karyawan maupun anggota tim terhadap kultur lembaganya seringkali mengakibatkan keputusan yang melenceng. Bila tidak diatur dan berpatokan pada misi yang jelas, kejadian kesalahan dalam pemilihan dan pemutusan sudah pasti akan berulang dan terus terjadi.
Menjaga mutu dan akuntabilitas keputusan
Pengambilan keputusan terjadi di setiap jajaran dan bukan melulu tugas pemimpin. Namun pemimpinlah yang tetap perlu mengingatkan, menggarisbawahi dan kalau perlu merestrukturisasi sistem pengambilan keputusannya dari waktu ke waktu. Pemimpin yang baik, tidak mungkin sibuk mempromosikan dirinya saja. Pemimpin perlu sensitif terhadap kebutuhan anak buah dan menyelaraskannya dengan kebuthan organisasi. Hanya dengan pendekatan seperti inilah, hubungan antara atasan dan karyawan yang paling bawah menjadi dekat, transparan, dan “aligned”.
Keteledoran dalam memperhatikan tata cara mengambil keputusan sudah dibuktikan dengan kasus-kasus seperti Enron, BP, krisis finansial global di luar negeri, dan kasus Lapindo di dalam negeri. Di saat nilai dan budaya korporasi bisa mengangkat harga diri, ‘competitiveness’ bahkan mengundang investasi kita pun perlu memfokuskan perhatian pada mutu keputusan dan akuntabilitas dari pemutusnya. Sistem dan struktur pembagian wewenang yang sudah digariskan dan diimplementasikan secara konsisten akan membuat seluruh organisasi seolah mempunyai ‘common language’ dan saling mengerti antara manajemen puncak dan bawahan. Bahkan orang luar pun tidak bisa melacak, di mana sebetulnya kunci pengambilan keputusan organisasi dan organisasilah yang kemudian akan mendapat manfaat pencitraan dan ‘competitiveness’. Untuk meningkatkan kualitas diri, kita memang perlu belajar mengambil keputusan yang bermutu, seperti kata pepatah Yugoslavia “If you wish to know what a man is, place him in authority”

Sumber:  kompas cetak, Sabtu-28 Januari 2012
Eileen Rachman & Sylvina Savitri

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Are You Happy?"

Rasa prihatin seketika muncul bila dalam kelas pelatihan saya menangkap ekspresi tidak “happy” di dalam diri calon-calon eksekutif cemerlang. Banyak yang mengeluh keadaan organisasi yang mengharuskan birokrasi. Banyak juga yang merasakan menjadi victim karena “masih yunior”. Sebagian besar tidak rela pulang malam hari, masuk pada akhir pekan, dan tidak menemukan “manfaat” atau sisi positifnya bila harus berpartisipasi pada acara-acara yang bertujuan meningkatkan motivasi dan memberi julukan kegiatan semacam itu sebagai “ekstrakurikuler” yang memberatkan. 
Seorang yang lebih serius mencoba mengurai panjang lebar mengenai kesenjangan harapan dalam kehidupan pribadinya dengan ambisi karirnya. Oleh karena itu ia pada suatu saat harus “memilih” antara karier atau kehidupan pribadi. Kita tentu bertanya-tanya, apakah kehidupan di kantor memang berbeda 180 derajat dengan kehidupan rumah sehingga banyak orang mengejar keseimbangan rumah–kantor alias “work life balance?” Apakah kita tidak bisa menjadi satu orang yang sama-sama bahagia, saat di kantor dan di rumah? Apakah di kantor kita harus “menjadi orang lain” dan meninggalkan sebagian dari diri kita di rumah?
Menyalurkan “happiness” secara strategik
Seorang profesor di bidang marketing, Jennifer Aaker, sangat meyakini bahwa upaya untuk mengejar happiness di perusahaan akan membuahkan produktivitas yang luar biasa. Ia melakukan eksperimen dengan meminta karyawan disuatu perusahaan membuat  foto situasi-situasi yang membuat mereka paling happy di kantor, dan membuat rating dari angka 1–10. Hasil dari penelitian kecil ini menggambarkan  bagaimana orang di kantor tersebut bisa menemukan kebahagiaan dari hal-hal di dalam pekerjaannya. Banyak orang menyatakan kadar happiness yang muncul saat berhasil menyelesaikan suatu tugas yang sulit setara dengan kepuasan saat menuntaskan lari maraton atau kelegaan perasaan sehabis ujian. Penelitian ini juga menggambarkan bahwa banyak karyawan yang menemukan pengalaman-pengalaman “berarti” di pekerjaan yang sama rasanya dengan bila sedang menikmati entertainment, misalnya pada saat mendapatkan tugas baru, membantu teman menyelesaikan tugasnya, atau membawa anggota keluarga ke kantor. Ditemukan juga dalam penelitian ini bahwa hampir semua karyawan excited untuk menemukan momen-momen yang membahagiakan karena maraknya media sosial seperti Facebook dan Twitter, serta kebutuhan mereka untuk menunjukkan foto-foto kegiatan mereka di situs-situs tersebut.
Disadari atau tidak “happiness” sudah menjadi komoditas. Bila biasanya kita melihat happiness sebagai suatu keadaan yang merupakan output dari situasi, sikap dan suasana dari suatu organisasi tertentu, sudah saatnya kita menjadikan happiness tidak sekadar sebagai fitur, tetapi bahkan sebagai bisnis model yang mewarnai berbagai proses dalam situasi kerja. Hal inilah yang diyakini dan diterapkan oleh Tony Hsieh, CEO Zappos. Ia sadar betul bahwa pelanggan harus dilayani oleh orang-orang yang happy. Hanya orang-orang yang happylah yang bisa duduk lebih lama dengan pelanggan dan berusaha memahaminya. “Customer service is about making employees happy, so let’s just simplify it and at the same time, amplify our vision for our customers, employees, vendors, and peers.” Demikian tony Hsieh menyebarkan positive psychology kepada stakeholdersnya. Dengan fokus pada happiness dalam kultur perusahaan dan upaya customer servicenya, Zappos tidak harus susah-susah membuat para pelanggan berada ditengah-tengah kegiatan customer services Zappos. Pendekatan ini benar-benar pendekatan “beyond” money.
“Happiness” itu serius
Walaupun happiness selalu mengandung unsur “pleasure”, membentuk kultur yang diwarnai happiness tidaklah mudah. Kita tidak bisa santai-santai dan secara otomatis mendapatkan keadaan ini. Kita perlu bekerja keras mengupayakan status ini. Ahli positive psychology, Martin Seligman mengatakan, “it is not an easy task, but it is easily the most important one that we have in our lives. After all, what is the point of living if we are not happy?” Karyawan perlu mempersepsikan bahwa tuas kontrol yang mengatur happy dan tidaknya dia, ada dalam dirinya, bukan ditentukan oleh atasan atau perusahaan. Ia pun perlu merasakan kemajuan kinerja perusahaan untuk menjaga semangatnya. Kebersamaan dan keterikatan dengan rekan sejawat juga penting. Selain itu, perlunya diperjelas “arti dan nilai” dalam bekerja.
Kita bisa melihat bahwa sistem reward model “carrot and stick” sudah basi. Saat sekarang karyawan akan happy bila pekerjaannya terkait dengan hal yang lebih “besar” seperti pelestarian lingkungan, pengajaran, situasi yang melibatkan orang yang lebih banyak atau dunia yang lebih global. Bukankah Al Gore menginspirasi hampir separuh populasi dunia dengan kepeduliaannya terhadap perubahan iklim? Karyawan bisa happy dan lupa waktu saat bekerja keras bila ia tahu betapa pekerjaannya membuat impact terhadap dunia. Kita semua tahu bahwa kebahagiaan tidak bersumber dari uang, mobil bagus, rumah seperti istana, bukan? Prinsip inilah yang perlu dipegang pada saat kita menghadapi generasi muda yang kritis, dan persaingan bisnis yang tidak menentu ini.      


sumber: kompas cetak, Sabtu-21 Januari 2012
Eileen Rachman & Sylvina Savitri

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dharma Wanita : Bukan Kumpul-kumpul Biasa...

"Norinya bisa diganti dengan agar-agar nggak?...". 
" Bisa ibu, tapi karena agar-agar terlalu lembut, jadi kurang pas nempelnya..".  

ini adalah jawaban Mr. Marchell untuk Ibu Sarini salah seorang peserta yang bertanya. Ibu-ibu tampak antusias menyimak segala gerak dan ucapan Mr. Marchell, instruktur dari Moshi Bento, saat membagikan teknik menghias kotak bekal untuk anak ala bento. Tidak seperti biasanya, acara dharma wanita di kantor hari ini tampak lebih rame dari biasanya, hampir tak ada satupun peserta yang meninggalkan ruang auditorium grha tama lt.4 sejak awal hingga acara selesai. Semua bergeming, menyimak detil acara satu demi satu. Entah karena temanya menarik atau waktunya yang kebetulan di awal tahun. Biasanya di awal tahun seperti ini, beban pekerjaan relatif lebih sedikit, sehingga pimpinan membebaskan ibu-ibu yang kebetulan juga karyawati kantor untuk mengikuti acara dharma wanita kali ini dengan sepenuh hati (hurrayyy...!!!).

Sebenarnya ada apa saja di sini...seperti biasa acara pagi tadi dibuka dengan sambutan ketua Dharma Wanita, Ny. Yossy Ari. Kemudian  nyanyi bareng sebelum masuk acara tema--kali ini teknik bento, arisan, doorprize, obrolan ringan seputar kita, ditutup dengan doa dan makan siang. 


Dharma wanita, warisan orba yang masih relevan hingga saat ini. Adalah Ny Tien Soeharto, Ibu Negara pada waktu itu, pada tahun 1974 menggagas berdirinya organisasi yang beranggotakan para isteri pegawai dan  pegawai perempuan ini. Dimaksudkan untuk mendukung terwujudnya kesejahteraan anggota dan keluarganya (AD/ART). Kalau yang kami rasakan kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mempererat tali silaturahim antar anggotanya. Di sini kami bisa ngobrol yang ringan-ringan, berbagi ide dan pengalaman seputar dapur, perkembangan anak, keterampilan praktis, bahkan bisa juga berbisnis bersama. Karena senasib, sesama ibu-ibu yang memegang peran kunci yang katanya tiangnya negara....(hehe...kesannya agak berat memang, tapi ini nyata) kami jadi sangat berhasrat saat berkumpul disini. Setiap kali pertemuan ini berakhir, pasti timbul ide baru untuk terus bergerak....salam dharma wanita!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tidak Ada Sistem Manusia Yang Sempurna

"Pemimpin yang baik, pernah jadi anak buah yang baik", demikian menurut Dahlan Iskan, mantan CEO PLN, yang juga menteri BUMN, seperti dikutip big boss--(Pak Ari kami biasa memanggilnya) dalam rapat pagi hingga siang tadi, 6/1/12. Jika seseorang tidak pernah menjadi yang terbaik di apapun posisinya sekarang, jangan harap dia akan naik pada posisi yang lebih tinggi. Parameter anak buah yang baik adalah tidak menjadi bagian persoalan bagi pemimpinnya. Tetapi justru dapat memberikan jalan keluar pada atasannya. Pun demikian saya (baca:Pak Ari) akan berusaha tidak merepotkan atasan saya.

Setiap pimpinan harus berani mengambil resiko, jangan takut dalam mengambil keputusan karena pasti ada korban.Tidak ada sistem yang dibuat manusia sempurna. Dalam sejarah penciptaan manusia, timbul protes iblis kepada Sang Pencipta. Iblis menolak saat Alah SWT memerintahkannya untuk sujud kepada Adam AS. Iblis juga menolak keputusan Allah SWT yang menunjuk Adam AS sebagai khalifah di bumi. Apalagi pro dan kontra atas nama sistem buatan manusia, pasti akan ada. Jadi jangan takut berbuat salah. Pun seorang bawahan yang baik, bawahan yang bijak tetap harus berbuat. Apapun, lebih baik berbuat salah daripada tidak berbuat salah, karena artinya tidak berbuat apa-apa.

Masih menurut big boss, analog dengan lokomotif kereta api berlari menjalankan roda di depan, tetapi sepuluh gerbong di belakang ngerem semua, pasti tidak akan jalan, percayalah!!. Di Tahun 2012, semua harus tancap gas. Mari kita berlari dan memperkecil gaya gesek. Dalam fisika, gaya gesek adalah gaya yang berlawanan dengan kecenderungan benda bergerak. Salah satu caranya adalah dengan lebih mengefektifkan lagi proses diskusi dan komunikasi antar kita. Dengan menerapkan integrasi proses, resource sharing dan TIK sebagai pilar problem solving, dapat menjadi salah satu alat dalam mencapai tujuan organisasi. Jika ini kita pegang,  maka  secara tidak langsung akan dapat meningkatkan empati antar kita, baik internal maupun eksternal yang lebih luas, menjadi lebih bermanfaat dan bermakna. Untuk lebih bermanfaat, kata kuncinya ada pada efektif, efisien dan berkualitas. Selamat berbuat!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pentingnya Melayani

Suatu siang, Joko bersama istrinya turun dari angkot tepat di depan kantor kelurahan dimana Joko sekeluarga sudah menjadi warga selama lebih dari 10 tahun terakhir. Begitu turun dari angkot, Joko bersama istrinya melangkah masuk ke dalam untuk mengurus perpanjangan KTPnya yang sudah jatuh tempo.
Di salah satu sudut ruangan, Joko dan istrinya menghampiri seorang laki-laki setengah baya, berseragam coklat dengan atribut kepegawaian di lengannya dan nama ‘Supriyono’ tercantum di dadanya. “Selamat siang pak, kami mau memperpanjang KTP,” kata Joko kepada laki-laki dengan model rambut bang haji Rhoma Irama itu. Dari balik meja kerjanya yang mungil, laki-laki itu menjawab tanpa melemparkan senyum – mungkin agar nampak berwibawa, “Syarat-syaratnya sudah lengkap?” Joko segera menyenggol istrinya yang sontak sibuk mengeluarkan kantong plastik berisi KTP asli milik mereka dan pas foto dari dalam tas. Sambil mengernyitkan dahi diantara kepulan asap rokoknya, pria berseragam itu bertanya,”Lho kok cuma ini? Mana fotokopi Kartu Keluarga, pengantar RT…Lha ini, pas fotonya juga salah…Tahun kelahiran ganjil warna fotonya harus merah, tahun kelahiran genap warna fotonya harus biru.”

Oalah…Joko baru tahu ternyata sekarang mau memperpanjang KTP persyaratannya banyak, tidak hanya sekedar menyerahkan KTP asli yang sudah habis masa berlakunya dan pas foto, seperti yang selalu ia lakukan sejak usia 17 tahun. Joko pun bertanya kenapa ke petugas itu. Kenapa warna foto harus dibedakan antara tahun kelahiran ganjil dan genap? Apa manfaatnya, warna saja kok dipermasalahkan? Kenapa harus menyerahkan fotokopi kartu keluarga padahal kartu keluarga Joko yang menerbitkan juga kantor kelurahan itu, artinya data-data keluarga Joko seharusnya juga masih disimpan oleh kantor Kelurahan? Sang petugas – masih tanpa senyum – mencoba memberikan penjelasan,”Ya…itu aturannya.” Nampaknya hanya penjelasan seperti itu yang bisa dia berikan ke Joko dan istrinya, yang notabene sudah menjadi bangsa Indonesia sejak nenek moyang mereka.
Joko hanya bisa mengajak istrinya pulang sambil bergumam,”Bu, percuma kamu jadi cucu veteran. Kakekmu dulu ikut perang di Kebumen, bapakmu dulu dikirim perang ke Irian, kita sekarang mau ngurus KTP saja sulit.” Istri Joko menimpali,”Nggak cuma kita, Pak. Semua juga begitu kalau mau ngurus KTP. Wong sistemnya yang dibuat sulit.”
Ya, karena sistem yang dibuat sulit, Joko dan istrinya harus mengeluarkan uang lagi untuk naik angkot, fotokopi kartu keluarga, ke studio foto untuk bikin pas foto merah dan biru, membeli sekaleng biskuit untuk oleh-oleh Pak RT saat meminta surat keterangan nanti serta tentunya membayar biaya pembuatan KTP yang seharusnya gratis. Alangkah indahnya jika para petinggi negara ini dan mereka yang dipekerjakan oleh rakyat mau menundukkan kepala untuk melihat kesulitan mereka yang ada di bawah. Rakyat sebangsa dan setanah air yang seharusnya dilayani, dibantu dan dipermudah tidak seharusnya dibuat sulit oleh sistem dan birokrasi yang kadang terkesan mengada-ada.
Bagaimana dengan anda? Ada pengalaman berurusan dengan birokrat?

Menengoklah ke bawah

“Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?”, jargon yang akrab dengan sebagian birokrat dan Pegawai Negeri Sipil / PNS di Indonesia. Sikap unik ini bahkan sempat menginspirasi iklan televisi salah satu produk rokok.
Di negeri bule, Pegawai Negeri Sipil disebut sebagai Civil Servant atau Public Servant, yang artinya adalah PELAYAN MASYARAKAT. Mereka digaji dari uang rakyat dan mereka bekerja untuk melayani masyarakat. Di Indonesia, mengapa tidak semua PNS memiliki jiwa melayani? Mungkin karena sebagian dari PNS belum memahami untuk siapa mereka bekerja, atau mungkin mereka tidak mau peduli karena setiap bulan apa yang mereka terima tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Atau justru mereka sebenarnya ingin memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, tapi apa daya sistem dan birokrasi yang ada tidak mendukung. Itulah opini saya.
Apapun kondisinya, seharusnya tidak ada alasan untuk tidak memberikan service yang terbaik bagi konsumen kita. Demikian juga kita yang sudah memiliki posisi di radio. Semakin tinggi posisi kita, berarti semakin banyak juga stake holder yang harus kita layani. Tidak hanya direktur dan owner, tapi juga semua crew, pemasang iklan hingga pendengar harus kita layani dengan baik. Kita harus memberikan service terbaik bagi penyiar agar mereka bisa dengan baik melayani kebutuhan pendengar. Kita harus bisa memberikan service terbaik untuk receptionist agar mereka bisa melayani telpon masuk dan tamu yang datang ke studio kita dengan baik pula. Kita harus melayani mereka yang tergabung dalam divisi penjualan agar klien kita puas dengan service yang diberikan oleh sales team kita. Demikian juga dengan Office Boy / Office Girl, harus kita service agar mereka happy dan termotivasi untuk bisa melayani seluruh kantor dengan baik.
Saling melayani tidak hanya dari sikap dan tenaga tetapi juga dalam menciptakan sistem kerja yang lebih simpel namun tetap efektif. Jika saling melayani, saling membantu, saling mempermudah bisa terjadi dua arah antara bawahan dan atasan, tidak mustahil akan lahir suasana kerja yang kondusif dan kita bisa menjadi satu kelompok kerja yang berkualitas untuk memajukan radio kita. Dengan melayani anggota tim yang lain, mereka akan membantu kita untuk mencapai tujuan yang kita harapkan.

sumber: radioclinic.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Senam Indonesia Jaya


Sikap Awal
  • berdiri tegak,
  • tumit rapat dengan ujung kaki terbuka selebar kepalan tangan,
  • pandangan lurus ke depan,
  • kedua lengan lurus di samping badan,
  • telapak tangan rapat di samping paha,
  • jari – jari rapat menghadap ke bawah

Pemanasan
  • Tujuan     :  untuk menghilangkan kekakuan pada otot dan persendian serta menaikkan denyut jantung secara perlahan.

1.      Gerakan 1, (2x8 hitungan),
  •  Pertama, 1x8 hitungan, jalan di tempat, diawali dengan kaki kanan. Ayunkan lengan bergantian ke arah dagu. Tangan setengah mengepal, siku kedua lengan ditekuk ke belakang.









  •  Kedua, 1x8 hitungan, hitungan satu, tangan di pinggang, empat jari rapat di depan, tundukkan kepala. Hitungan dua, kepala kembali ditegakkan. Ulangi sampai delapan hitungan.
2.      Gerakan 2, (4x8 hitungan),
  • Pertama, 1x8 hitungan, membuka kaki kanan dan kiri seimbang dan kembali merapat, sambil mengayunkan lengan bergantian ke arah dagu, hitungan satu mulai ke sisi kanan.
  • Kedua, 1x8 hitungan, jalan di tempat, kedua tangan di pinggang, empat jari rapat di depan, tengokkan kepala ke samping kanan dan kiri, hitungan satu mulai ke sisi kanan.
  • Ketiga,  1x8 hitungan, ulangi gerakan pertama, hitungan satu mulai ke sisi kiri.
  • Keempat, 1x8 hitungan, ulangi gerakan kedua, hitungan satu mulai ke sisi kiri.

3.      Gerakan 3, (4x8 hitungan),
  • Pertama, 1x8 hitungan, melangkah satu langkah ke samping kanan dan kiri, sambil mengangkat bahu secara perlahan, tangan di kepal di samping badan, hitungan satu mulai ke sisi kanan.
  • Kedua, 1x8 hitungan, jalan di tempat di awali kaki kanan, putar kedua bahu perlahan ke belakang.
  • Ketiga,  1x8 hitungan, ulangi gerakan pertama, hitungan satu mulai ke sisi kiri.
  • Keempat, 1x8 hitungan, ulangi gerakan kedua.
 
4.      Gerakan 4, (4x8 hitungan),
  • Pertama, 1x8 hitungan, melangkah satu langkah ke samping kanan dan kiri, sambil mendorong dan menarik bahu, hitungan satu mulai ke sisi kanan.
  • Kedua, 1x8 hitungan, jalan di tempat di awali kaki kanan, putar kedua bahu perlahan ke depan.
  • Ketiga,  1x8 hitungan, ulangi gerakan pertama, hitungan satu mulai ke sisi kiri.
  • Keempat, 1x8 hitungan, ulangi gerakan kedua.

5.      Gerakan 5, (4x8 hitungan),
  • Pertama, 1x8 hitungan, melangkah satu langkah ke samping kanan dan kiri, sambil menekuk dan meluruskan kedua lengan, kepalan berhadapan, hitungan satu mulai ke sisi kanan.
  • Kedua, 1x8 hitungan, membuka kaki dua kali serong ke depan dengan tumit, bergantian kanan dan kiri, sambil mengangkat kepalan tangan dua kali ke arah samping telinga, bergantian. Hitungan satu mulai ke sisi kanan.
  • Ketiga,  1x8 hitungan, ulangi gerakan pertama, hitungan satu mulai ke sisi kiri.
  • Keempat, 1x8 hitungan, ulangi gerakan kedua, hitungan satu mulai ke sisi kiri.

6.      Gerakan 6, (4x8 hitungan),
  • Pertama, 1x8 hitungan, melangkah satu langkah ke samping kanan dan kiri, sambil mendorong kepalan dari pinggang lurus ke depan setinggi dan selebar bahu, dengan membuka jari-jari, telapak tangan berhadapan, hitungan satu mulai ke sisi kanan.
  • Kedua, 1x8 hitungan, melangkah selangkah maju mundur, diawali kaki kanan, sambil mengangkat kedua kepalan tangan dari perut ke arah samping telinga.
  • Ketiga,  1x8 hitungan, ulangi gerakan pertama, hitungan satu mulai ke sisi kiri.
  • Keempat, 1x8 hitungan, ulangi gerakan kedua, hitungan satu mulai kaki kiri.



7.  Gerakan 7, (4x8 hitungan),
  • Pertama, 1x8 hitungan, melangkah dua langkah ke samping kanan dan kiri, sambil kedua tangan mengayun lurus ke samping setinggi bahu, kepalan menghadap ke bawah, hitungan satu mulai ke sisi kanan.
  • Kedua, 1x8 hitungan, mendorongkan kaki ke samping dua kali, sambil mendorong kepalan tangan, dua kali bergantian, dari pinggang ke arah diagonal setinggi bahu. Hitungan satu mulai ke sisi kanan.
  • Ketiga,  1x8 hitungan, ulangi gerakan pertama, hitungan satu mulai ke sisi kiri.
  • Keempat, 1x8 hitungan, ulangi gerakan kedua, hitungan satu mulai ke sisi kiri.

8.  Gerakan 8, (4x8 hitungan),
  • Pertama, 1x8 hitungan, melangkah dua langkah ke samping kanan dan kiri, sambil kedua lengan lurus diayun naik ke samping dan dibawa ke depan selebar dan setinggi bahu, hitungan satu mulai ke sisi kanan.
  • Kedua, 1x8 hitungan, diawali dengan kedua tangan ditekuk, dan kepalan di depan dada. Dorong kedua lengan lurus ke depan, selebar dan setinggi bahu sambil mendorong kaki ke belakang, dimulai dari kaki kanan ke belakang, kemudian bergantian dengan kaki kiri.
  • Ketiga,  1x8 hitungan, ulangi gerakan pertama, hitungan satu mulai ke sisi kiri.
  • Keempat, 1x8 hitungan, ulangi gerakan kedua, hitungan satu mulai dengan kaki kiri didorong ke belakang.
Peregangan Dinamis dan Statis
  • Tujuan     :  untuk meregangkan otot-otot tubuh dan mempersiapkan otot sebelum melakukan gerakan  inti.
1.      Gerakan 1, (4x8 hitungan),
  • Pertama, 1x8 hitungan, melangkah satu langkah ke samping kanan dan kiri dengan menekuk kedua lutut, sambil membuka tangan ke samping bergantian kanan dan kiri, telapak menghadap ke atas, akhiri dengan merapatkan kaki.
  • Kedua, 1x8 hitungan, tekuk kedua lutut rapat, sambil memutar kedua lengan ke arah luar, jari-jari rapat.
  • Hitungan 2x8 selanjutnya, ulangi gerakan ke sisi kiri dengan gerakan dan hitungan yang sama.




2.      Gerakan 2, (4x8 hitungan),

  • Pertama, 1x8 hitungan, hitungan satu, buka kaki kanan, dengan lutut kaki kanan ditekuk, tangan ditekuk dengan kepalan di depan dada, hitungan dua, tekuk lutut kiri, sambil condongkan badan ke samping kanan, dengan tangan direntangkan diagonal, telapak tangan menghadap ke bawah, pandangan ke ujung tangan kanan, hitungan ketiga, kembali ke hitungan pertama,  hitungan keempat, kembali ke sikap awal. Hitungan 5–8, ulangi gerakan ke sisi kiri.

  • Kedua, 1x8 hitungan, hitungan 1–4, buka kaki kanan, dengan lutut kaki kanan ditekuk, condongkan badan ke kanan, sambil tekuk tangan kanan, dengan kepalan di depan dada kanan, menghadap ke bawah, tangan kiri lurus diagonal ke atas, dengan jari rapat dan telapak menghadap ke bawah, pandangan ke samping kanan bawah, hitungan 5–8, tekuk lutut kiri, sambil angkat ujung kaki kanan, lengan kiri ditekuk, telapak menghadap ke depan disamping telinga kiri, lengan kanan lurus diagonal ke bawah, telapak menghadap ke bawah dan pandangan ke arah ujung kaki kanan.
  • Hitungan 2x8 selanjutnya, ulangi gerakan ke sisi kiri dengan gerakan dan hitungan yang sama.

3.  Gerakan 3, (6x8 hitungan),
  • Pertama, 1x8 hitungan, hitungan 1, dorong kaki kanan ke belakang, menapak, lengan lurus ke depan, selebar dan setinggi bahu, telapak tangan menghadap ke bawah, hitungan 2, angkat tumit kanan, lutut tertekuk, kedua tangan tertumpu di depan dada, tangan kanan di atas tangan kiri,  hitungan 3, kembali ke hitungan 1, hitungan 4, kembali ke sikap awal. Hitungan 5–8, ulangi gerakan ke sisi kiri.
  • Kedua, 1x8 hitungan, hitungan 1–4, dorong kembali kaki kanan ke belakang, menapak, kedua lengan lurus ke atas, membentuk huruf V, kedua telapak berhadapan, hitungan 5–8, tekuk lutut kanan, tumit kanan terangkat, kedua tangan bertumpu di depan dada.






  • Ketiga, 1x8 hitungan, hitungan 1–4, rapatkan kaki, kedua lutut ditekuk, sambil tangan kanan mendorong tangan kiri, lurus ke depan, hitungan 5–8, angkat lutut kanan ke depan, dengan bola kaki kanan bertumpu pada samping lutut kiri, kepalan tangan kanan di pinggang, dan tangan kiri lurus ke atas di samping telinga, kepalan menghadap ke depan.

  • Hitungan 3x8 selanjutnya, ulangi gerakan ke sisi kiri dengan gerakan dan hitungan yang sama.

Peralihan
Dilakukan sebelum dan sesudah gerakan inti  
  • Tujuan     :  untuk mempersiapkan gerakan selanjutnya sambil mengatur napas.


Gerakan Inti
  • Tujuan     :  untuk melatih koordinasi gerak tangan dan kaki serta menaikkan denyut nadi.


1.      Gerakan 1, (8x8 hitungan),

  • Pertama, 1x8 hitungan, melangkah satu langkah ke samping kanan dan kiri, sambil meninjukan tangan ke samping bergantian, pandangan ke samping mengikuti kepalan tangan.   


 
  • Kedua, 1x8 hitungan, melangkah satu langkah ke samping kanan dan kiri, sambil meninjukan tangan ke atas bergantian di samping telinga, kepalan menghadap ke depan.







  • Ketiga, 1x8 hitungan, melangkah dua langkah ke samping kanan dan kiri, sambil menekuk kedua tangan di depan dada, lalu dibuka lurus ke samping, tangan dikepal menghadap ke bawah. Saat di samping badan kepalan menghadap ke dalam. 

  • Keempat, 1x8 hitungan, jalan di tempat sambil menekuk kedua tangan lalu didorong lurus ke atas, di samping telinga, kepalan menghadap ke depan, saat di samping badan kepalan menghadap ke dalam.
  • Hitungan 4x8 selanjutnya, ulangi gerakan ke sisi kiri dengan gerakan dan hitungan yang sama.





2.      Gerakan 2, (8x8 hitungan),
  • Pertama, 1x8 hitungan, hitungan 1–4, melangkah zig-zag maju sambil mengayun kepalan dari pinggang ke atas, hingga siku setinggi bahu, hitungan 5–8, melangkah zig-zag mundur dengan siku membuka ke samping, 
 









  • Kedua, 1x8 hitungan, hitungan 1–2, diawali dengan kaki rapat, kedua tangan ditekuk di depan dada, buka ujung kaki kanan ke samping kanan, sambil kedua tangan dibuka membentuk huruf L, ke depan dan ke samping, diikuti dengan melangkah ke samping kanan dan akhiri dengan rapatkan kaki kiri, ulangi gerakan ke sisi kiri sampai 8 hitungan.

  • Ketiga, 1x8 hitungan, hitungan 1–2, melangkah maju diawali kaki kanan, kedua kepalan tangan dari pinggang disilangkan ke bawah, lalu ditarik kembali ke pinggang, dan didorongkan ke atas di samping telinga, kepalan menghadap ke depan.  Hitungan 3–4, melangkah mundur diawali kaki kanan, gerakan sama. Ulangi gerakan sampai 8 hitungan.






  • Keempat, 1x8 hitungan, memindahkan berat badan, dengan ujung kaki ke depan bergantian kanan dan kiri, sambil mendayung.
  • Hitungan 4x8 selanjutnya, ulangi gerakan ke sisi kiri dengan gerakan dan hitungan yang sama.


3.      Gerakan 3, (8x8 hitungan),
§         Pertama, 1x8 hitungan, hitungan 1–4, putar badan ke samping kanan, sambil ayun kan tangan setinggi bahu, hitungan ke 4 tangan lurus ke atas sambil berseru “JAYA”, hitungan 5–8, lakukan gerakan yang sama ke samping kiri.


  • Kedua, 1x8 hitungan, hitungan 1–4, maju sambil ayunkan tangan, hitungan ke empat menghadap ke depan sambil tepuk tangan, hitungan 5–8, lakukan gerakan yang sama ke samping kiri.





  • Ketiga, 1x8 hitungan, rentangkan tangan kemudian ayunkan tangan kanan setengah lingkaran, sambil ayunkan kaki kanan ke samping kanan, bergantian dengan arah kiri.



  • Keempat, 1x8 hitungan, diawali dengan kedua tangan ditekuk, setinggi bahu, sambil mendorong kaki ke belakang, dimulai dari kaki kanan ke belakang, kemudian bergantian dengan kaki kiri.
  • Hitungan 4x8 selanjutnya, ulangi gerakan ke sisi kiri dengan gerakan dan hitungan yang sama.


 
4.      Gerakan 4, (8x8 hitungan),

  • Pertama, 1x8 hitungan, kaki kanan maju sambil rentangkan tangan, lutut ditekuk dan sedikit mengayun, kemudian kepalkan kedua tangan di depan dada sambil menghadap ke samping, ulangi maju kaki kanan dan rentangkan tangan, lakukan gerakan memutar hingga 8 hitungan. 
  •  Kedua, 1x8 hitungan, kepalkan kedua tangan di depan dada, kaki dibuka, ayunkan kaki kanan ke serong depan sambil ayunkan lengan lurus ke samping. 







  • Ketiga, 1x8 hitungan, melangkah 2 langkah ke samping kanan dan kiri sambil mengayunkan tangan di depan dada, saat tangan kanan lurus 90° ke atas, tangan kiri lurus 90° ke samping. Lakukan hingga 8 hitungan, awali dengan kaki kanan terlebih dahulu.

  • Keempat, 1x8 hitungan, kaki melangkah maju mundur zig-zag, sambil memutar kepalan tangan di depan dada, hitungan ke 3 & 4, tepuk tangan, awali dengan kaki kanan.

  • Hitungan 4x8 selanjutnya, ulangi gerakan ke sisi kiri dengan gerakan dan hitungan yang sama.



Pendinginan
Kembali ke Gerakan Peregangan Dinamis dan Statis, kemudian Pernapasan.
§         Tujuan    :  untuk menurunkan denyut nadi kembali dan mengembalikan kondisi tubuh seperti semula.

    • Digg
    • Del.icio.us
    • StumbleUpon
    • Reddit
    • RSS

    Tidur Pun Kami Digaji

    sumber: http://epaper.kompas.com/

    • Digg
    • Del.icio.us
    • StumbleUpon
    • Reddit
    • RSS