Pages

Showing posts with label leadership. Show all posts
Showing posts with label leadership. Show all posts

Wednesday, October 29, 2014

Sumpah Pemuda Itu....

Menurut kamu... Sumpah Pemuda itu.... ?

"...janji pemuda..."
"...upacara..."
"...28 Oktober..."
"...persatuan pemuda..."
"...ikrar pemuda..."   dst...

Itulah beberapa jawaban remaja ketika ditanya makna Sumpah Pemuda dalam sebuah acara talkshow interaktif di Radio Suara Edukasi, bertema Sumpah Pemuda. Ya...pada 28 Oktober...tepatnya 86 tahun yang lalu, para pemuda Indonesia mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.. Indonesia!!



Sumpah Pemuda 
Pertama  :  Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.
Kedua    :  Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketika    :  Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.


Kala itu terdapat gerakan pemuda Tri Koro Darmo, Jong Java, Jong Celebes Bond, Jong Sumatra Bond, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia, dan Indonesia Muda. Pada tanggal 30 April 1926 mereka mengadakan Konggres Pemuda I di Jakarta. Dalam konggres dihasilkan keputusan untuk mengadakan Konggres Pemuda Indonesia II, dan semua perkumpulan pemuda agar bersatu dalam satu organisasi pemuda Indonesia. 

Kemudian Konggres Pemuda II diadakan tanggal 27-28 Oktober 1928, disepakati tiga keputasan pokok yaitu: 1) Dibentuknya suatu badan fusi untuk semua organisasi pemuda. 2) Menentapkan ikrar pemuda Indonesia bahwa mereka: a) Mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. b) Mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. c) Menjunjung bahasa yang satu, bahasa Indonesia. 3) Asas ini wajib dipakai oleh semua perkumpulan di Indonesia. Hasil ini menjadi pondasi bagi persatuan Indonesia. Lagu yang berjudul Indonesia Raya karangan Wage Rudolf Supratman yang dikumandangkan membangkitkan semangat para pesertanya. Dan Sumpah Pemuda tiada lain adalah ungkapan sejarah manusia Indonesia. 

Menjadi Pemuda Indonesia, Aku Bangga!!!


sumber : 
-       Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta. 1979. Bunga Rampai Sumpah Pemuda. Jakarta: Balai   Pustaka.
-       http://www.museumsumpahpemuda.com/beranda.php?module=detailsejarah&id=33


Tuesday, February 7, 2012

Keputusan

Dalam sebuah renovasi kecil di kantor, seorang anggota Board of Directors tiba–tiba memanggil pimpro renovasi rung rapat tersebut. “Saya tidak mau ruangan ini terbuka dan berkaca semua, tolong diganti dengan dinding, karena di ruangan ini harus ada ‘privacy’”.
 
PIMPRO dengan sopan mengatakan bahwa penggantian tidak bisa dilakukan lagi, karena biaya akan melampaui budget dan lagi pula ruangan tersebut sudah akan digunakan. Ketika angota dieksi tersebut semakin berang, pimpro menunjukkan perubahan-perubahan gambar yang sudah terjadi selama ini, bahkan sudah 8 kali. Di dalam hati pimpro bergumam, “Siapa suruh tidak ikut rapat?”
Pengambilan keputusan memang tidak bisa disepelekan. Pernahkah kita membayangkan betapa mahalnya biaya perubahan yang terjadi akibat keputusan yang tidak matang? Dapatkah kita meghargai  keputusan yang sudah di “ketok palu” dan tidak malah mementahkannya? Pernahkah kita mengatur diri, kelompok ataupun perusahaan, untuk meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan? Pernahkah mandat untuk mengambil keputusan kita tinjau kembali, revisi dan diperkuat, agar supaya efisiensi maupun pengembangan kemampuan manajerial tim kita berkembang? Bukankah bila kita ingin mengembangkan praktik bisnis yang baik bahkan terpuji, kita juga perlu mengelola manajemen resiko dan kemudian mengatur tata cara mengambil keputusan?
Keadaan bisa lebih parah lagi, bila di antara pihak mengambil keputusan, masing–masing bisa mementahkan keputusan yang lain. Salah satu sudah mau maju, yang lain mengatakan: “tunggu dulu!” Keadaan bagaikan ‘poco-poco’ ini bukan saja menghambat, tetapi jelas juga merugikan organisasi. Kita juga bisa melihat kejadian, setelah terjadi kesalahan, tim pemutus malah saling tuding, “buang badan” alias cuci tangan, dan masing-masing berteriak: “bukan saya”. Dalam situasi ini, kita tentu bertanya-tanya, bukankah dalam keadaan genting para pengambil keputusan perlu langsung merapatkan barisan, mengompakkan diri dan dan berpikir bersama menemukan jalan keluar, dan bukan malah membuat semua kelemahan terlihat dari luar? Menyadari bahwa pengambilan keputusan merupakan bagian integral dari lembaga tersebut, masihkah kita mengabaikan dan tidak mengaturnya?
Bagaimana dengan lembaga-lembaga pemerintah super penting, yang terasa belum siap menanggung resiko dan tangggung jawab atas keputusan beberapa miliar, sementara mereka harus bisa memutuskan dan mempertanggung jawabkan putusan yang nilainya puluhan bahkan ratusan triliun? Dinamika “corporate governance” ini, bukan menjadi tuntutan di negara kita saja, namun sudah menjadi tren global, yang tidak bisa ditawar tawar lagi, bukan saja oleh lembaga-lembaga bisnis saja, tetapi juga lembaga pemerintah, swadaya maupun para investornya juga.
Pentingnya misi dan patokan
Ada seorang teman yang berkomentar, “Di perusahaan ini, mengambil keputusan pengeluaran 5 juta saja, sama lamanya dengan pengambilan keputusan pengeluaran uang 10 miliar. “Keputusan yang bertele-tele tentu sama merugikannya dengan keputusan yang terburu-buru dan tidak matang. Dalam kondisi yang tidak menentu dan banyaknya kendala yang perlu kita hadapi, yang diperlukan sebetulnya adalah patokan bagaimana pengambilan keputusan ditata.
Seorang ahli manajemen mengemukakan patokan yang mudah diingat, bila kita ingin mengembangkan “corporate governance” yang baik yaitu: Culture, Leadership, Alignment, System dan Structure, disingkat CLASS. Perusahaan yang menginginkan efisiensi luar dalam, hanya bisa mencapainya dengan menetapkan standar, mulai dari gaya berpakaian, sikap keterbukaan pada pemimpinnya, bahkan sampai cara berkomunikasi setiap individu dengan orang luar. Lembaga yang mewakili rakyat, misalnya DPR, rasanya pun perlu menyebarkan visi dan misinya secara jelas, mengenai tata cara, tata karma serta gaya hidup yang dituntut terhadap anggota-anggotanya. Pengaturan mengenai mobil apa yang akan digunakan, suguhan makanan yang dipilih, produk dan gaya interior ruang rapat apa yang akan dimanfaatkan, kesemuanya perlu menggambarkan misi lembaga. Kita sudah melihat bahwa tidak pahamnya anggota kelompok, karyawan maupun anggota tim terhadap kultur lembaganya seringkali mengakibatkan keputusan yang melenceng. Bila tidak diatur dan berpatokan pada misi yang jelas, kejadian kesalahan dalam pemilihan dan pemutusan sudah pasti akan berulang dan terus terjadi.
Menjaga mutu dan akuntabilitas keputusan
Pengambilan keputusan terjadi di setiap jajaran dan bukan melulu tugas pemimpin. Namun pemimpinlah yang tetap perlu mengingatkan, menggarisbawahi dan kalau perlu merestrukturisasi sistem pengambilan keputusannya dari waktu ke waktu. Pemimpin yang baik, tidak mungkin sibuk mempromosikan dirinya saja. Pemimpin perlu sensitif terhadap kebutuhan anak buah dan menyelaraskannya dengan kebuthan organisasi. Hanya dengan pendekatan seperti inilah, hubungan antara atasan dan karyawan yang paling bawah menjadi dekat, transparan, dan “aligned”.
Keteledoran dalam memperhatikan tata cara mengambil keputusan sudah dibuktikan dengan kasus-kasus seperti Enron, BP, krisis finansial global di luar negeri, dan kasus Lapindo di dalam negeri. Di saat nilai dan budaya korporasi bisa mengangkat harga diri, ‘competitiveness’ bahkan mengundang investasi kita pun perlu memfokuskan perhatian pada mutu keputusan dan akuntabilitas dari pemutusnya. Sistem dan struktur pembagian wewenang yang sudah digariskan dan diimplementasikan secara konsisten akan membuat seluruh organisasi seolah mempunyai ‘common language’ dan saling mengerti antara manajemen puncak dan bawahan. Bahkan orang luar pun tidak bisa melacak, di mana sebetulnya kunci pengambilan keputusan organisasi dan organisasilah yang kemudian akan mendapat manfaat pencitraan dan ‘competitiveness’. Untuk meningkatkan kualitas diri, kita memang perlu belajar mengambil keputusan yang bermutu, seperti kata pepatah Yugoslavia “If you wish to know what a man is, place him in authority”

Sumber:  kompas cetak, Sabtu-28 Januari 2012
Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Friday, January 6, 2012

Tidak Ada Sistem Manusia Yang Sempurna

"Pemimpin yang baik, pernah jadi anak buah yang baik", demikian menurut Dahlan Iskan, mantan CEO PLN, yang juga menteri BUMN, seperti dikutip big boss--(Pak Ari kami biasa memanggilnya) dalam rapat pagi hingga siang tadi, 6/1/12. Jika seseorang tidak pernah menjadi yang terbaik di apapun posisinya sekarang, jangan harap dia akan naik pada posisi yang lebih tinggi. Parameter anak buah yang baik adalah tidak menjadi bagian persoalan bagi pemimpinnya. Tetapi justru dapat memberikan jalan keluar pada atasannya. Pun demikian saya (baca:Pak Ari) akan berusaha tidak merepotkan atasan saya.

Setiap pimpinan harus berani mengambil resiko, jangan takut dalam mengambil keputusan karena pasti ada korban.Tidak ada sistem yang dibuat manusia sempurna. Dalam sejarah penciptaan manusia, timbul protes iblis kepada Sang Pencipta. Iblis menolak saat Alah SWT memerintahkannya untuk sujud kepada Adam AS. Iblis juga menolak keputusan Allah SWT yang menunjuk Adam AS sebagai khalifah di bumi. Apalagi pro dan kontra atas nama sistem buatan manusia, pasti akan ada. Jadi jangan takut berbuat salah. Pun seorang bawahan yang baik, bawahan yang bijak tetap harus berbuat. Apapun, lebih baik berbuat salah daripada tidak berbuat salah, karena artinya tidak berbuat apa-apa.

Masih menurut big boss, analog dengan lokomotif kereta api berlari menjalankan roda di depan, tetapi sepuluh gerbong di belakang ngerem semua, pasti tidak akan jalan, percayalah!!. Di Tahun 2012, semua harus tancap gas. Mari kita berlari dan memperkecil gaya gesek. Dalam fisika, gaya gesek adalah gaya yang berlawanan dengan kecenderungan benda bergerak. Salah satu caranya adalah dengan lebih mengefektifkan lagi proses diskusi dan komunikasi antar kita. Dengan menerapkan integrasi proses, resource sharing dan TIK sebagai pilar problem solving, dapat menjadi salah satu alat dalam mencapai tujuan organisasi. Jika ini kita pegang,  maka  secara tidak langsung akan dapat meningkatkan empati antar kita, baik internal maupun eksternal yang lebih luas, menjadi lebih bermanfaat dan bermakna. Untuk lebih bermanfaat, kata kuncinya ada pada efektif, efisien dan berkualitas. Selamat berbuat!!!

Wednesday, April 9, 2008

Jangan Main-main dengan Tangung Jawab


"Tolong bangunkan yang tidur itu. Kalau mau tidur silakan di luar saja," tegur Presiden, sambil menunjuk pimpian daerah yang masih terlelap tidur.



Masih mengarahkan pandangan kepada peserta yang tertidur, Presiden yang tengah berbicara tentang penghematan anggaran menghentikan sejenak pidatonya untuk menegur yang tertidur:
"Pimpinan bagaimana dapat memimpin rakyat kalau tidur! Malu dengan rakyat yang memilih. Untuk mendengarkan pembicaraan untuk rakyat saja tidur! Jangan main-main dengan tangung jawab. Berdosa, bersalah dengan rakyat," ujarnya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghentikan pidatonya dalam pembekalan kepada peserta forum konsolidasi pimpinan daerah, bupati, wali kota, ketua DPRD kabupaten/kota di Gedung Lembaga Ketahanan Nasional, Jakarta, Selasa, 8 April 2008, karena mendapati peserta yang mendengarkan pidatonya tertidur.

Eksistensi manusia ada pada rasa tanggung jawabnya. Hidup adalah rangkaian tanggung jawab. Tangung jawab adalah keberanian menerima dan melaksanakan kewajiban dengan benar dan pantas. Mengantuk lalu tertidur adalah fitrah manusia, masuk dalam logika kebenaran, tapi apakah pantas jika dilakukan sembarang tempat tanpa kendali, secara manusia berakal. Akal sebagai mesin pengendali nafsu, sudah semestinya dominan dalam setiap langkah dan sikap individu dalam melaksanakan tanggungjawabnya. Setiap manusia akan datang kepada Sang Maha Pemilik untuk mempertanggungjawabkan setiap jengkal langkah hidupnya.

Tidak ada satu makhluk (berakal) pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan gang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (QS. Maryam: 93-95).

Tidak ada pembenaran apapun untuk lari dari tanggung jawab. “Anda tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya pada hari ini”. (Abraham Lincoln). Tidak jarang individu mencari-cari alasan sebagai pembenaran untuk menghindari tanggung jawabnya. Sudah menjadi tanggung jawab setiap karyawan, khususnya PNS, untuk masuk kantor tiap hari. Namun masih saja ada yang beralasan, “…..rumahku kan jauh, kalau mesti masuk kantor tiap hari, berat diongkos donk, tahu sendiri gaji kita sebulan berapa………”; ada lagi, “……..biasalah macet ….mana bisa kalau gw disuruh dateng pagi…..” Inilah realita disekitar kita, setitik noda bagi pengabdian, akibat ulah segelintir oknum yang abai atau tidak sadar akan tanggung jawabnya. Padahal sebagai abdi negara, apalagi pejabat, mereka adalah orang-orang terpilih yang dibayar oleh rakyat untuk melayani rakyat, memajukan negeri ini.

Mereka mempunyai hati yang tidak digunakan untuk mengerti. Mereka mempunyai mata yang tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga yang tidak digunakan untuk mendengar. Seperti binatang-lah mereka, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A'raf:179).

Tanggung jawab menunjukkan kualitas diri kita. Karena tanggung jawab, kita akan dipercaya orang, dihargai orang, dan tentu saja akan mendapatkan hak yang sepantasnya. Hidup ini akan sangat indah jika setiap pemimpin bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya, sebab sesungguhnya : “Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu bertanggung jawab atas kepemimpinan itu”. (Al-Hadits, Shahih Bukhari - Muslim)”.

Belum terlambat, mari kita berubah, “if you don’t change, you die”, Majulah Negeriku!!!