Pages

Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Thursday, March 5, 2015

Produktivitas di Tengah Bayang Rutinitas

“Saya cuma seorang ibu rumah tangga.” Itu ungkapan paling tak percaya diri dari seorang perempuan yang telah menikah. Seolah pekerjaan ibu rumah tangga sepele dan tidak berarti.

Jika tidak yakin dengan hebatnya status ibu rumah tangga (IRT), bagaimana mungkin menghasilkan sesuatu yng hebat dari rumah? Rutinitas kerap menjadikan suatu pekerjaan kehilangan maknanya. Apalagi rutinitas mengurus rumah, anak, dan suami, sepertinya sudah hal yang lumrah, meski berhasil dikerjakan dengan memuaskan.

Dilema. Rasa tidak percaya diri IRT makin bertambah ketika ekonomi keluarga memburuk. Harga–harga membumbung tinggi, kebutuhan keluarga pun membengkak. Rasanya makin tak berarti ketika segala sesuatunya hanya menunggu “uluran tangan” suami. Para ibu pun berteriak ingin lebih produktif, lebih menghasilkan, tidak semata mengerjakan urusan rumah tangga. Sayang bnyak yang tak tahu caranya.

Namun di sisi lain, banyak ibu bekerja––yang dari kacamata umum terlihat produktif––juga tidak puas dengan apa yang dilakukannya. Hatinya terbelah dua ketika harus pergi ke kantor, meninggalkan anak–anak yang masih kecil di rumah––dan melihat rumah selalu berantakan karena tak kuasa mengurusnya sepulang kerja. Secara ekonomi ia memang tak perlu terlalu bergantung pada suami, tapi harga yang harus dibayar ternyata sangat mahal, jauh dari anak dan kondisi rumah tak nyaman.
Jalan yang paling ideal adalah bagaimana tetap bisa produktif sesuai kebtuhan, namun ibu tak perlu keluar meninggalkan kewajibannya di rumah. Terbukti sudah banyak IRT yang meraih sukses meningkatkan prduktvitasnya tanpa harus rutin keluar rumah.

Produktif adalah Manfaat. Yulia Karmiluwti, motivator ABCO Sugesti Motivation, membedakan pekerjaan IRT menjadi pekerjaan reproduktif (di rumah tangga) dan produtif (di luar rumah). Bolehkah perempuan mengambil peran produktif? “Islam menempatkan perempuan secara proporsional untuk memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan diri sesuai dengan tugas dan fungsinya, baik secara reproduktif ataupun produktif,” jelasnya. dalam mengemban semua amanah tersebut, tambah Yulia, yang utama bagi ibu rumah tangga adalah bagaimana agar anak dan suami tidak terabaikan.Untuk itu, butuh kesepakatan yang jelas antara suami dan istri. Jangan sampai karena ingin lebih produktif demi memberikan banyak manfaat, malah menimbulkan banyak masalah.

“Hidup ini pilihan, dan setiap pilihan yang diambil harus siap dengan konsekuensinya,” Yulia megingatkan. Pikirkan resiko bagaimana anak ketika ibu ingin lebih produktif, bagaimana dengan pengeluaran, membayar asiten rumah tangga, dan lainnya. “Disinilah masalah sering terjadi. Produktif, tapi tidak ada izin suami, tidak meminta restu ke anak–anak, tidak ada komunikasi yang baik.” sesalnya.

Produktif adalah sesuatu yang menghasilkan terus–menerus dan mendatangkan manfaat. Jadi jangan mengartikan produktif itu berhasil secara ekonomi saja. Karena bagi seorang ibu rumah tangga, kebutuhan terhadap produktivitasnya berbeda–beda. “Ibu rumah tangga bisa punya produktivitas sesuai dengan apa yang dia minati,” demikian menurut Anna Surti Ariani,S.Psi, M.Si, Psi. Selama kegiatan yang dilakukan dirasakan manfaatnya oleh si ibu dan keluarga, maka itu sudah bisa disebut produktif. Di sini juga akan tercapai aktualisasi diri si ibu, di mana kepuasan diri dan manfaat psikis akan ia rasakan sehingga timbulah rasa percaya diri positif.
Karena kebermanfaatan terait erat dengan produktivitas, maka semakin besar manfaat yang dirasakan oleh banyak orang , semkin produktiflah kita. Dan kita tak mungkin mengetahui seberapa besar produktivitas kita jika tidak mencoba melakkan pekerjaan lebih dari rutinitas yang biasa dilakukan.   

Dampak Kurang Produktif. Jika seorang IRT tidak produktif, terutama tidak maksimal dalam mengurus rumah tangganya, anaknya, juga suaminya, maka tunggulah kehancurannya, karena perempuan adalah tiang negara,” tegas Yulia.
Anna Suparti pun menambahkan, sikap tidak produktif juga akan membuat perempuan tidak bisa mandiri dan terlalu tergantung dengan suami. “Waktu pun akan lebih banyak yang terbuang, apalagi jika pekerjaan rumah sudah diurus oleh asisten.

Sikap tidak produktif, padahal prioritas hidupnya menuntut produktivitas yang lebih, membuat hidup menjadi stagnan dalam banyak hal. Ketidakpuasan diri perlahan muncul sehingga hubungan interpersonal dalam keluarga dapat makin berkurang kualitasnya.

Jadi sebetulnya produktif adalah suatu keharusan bagi ibu rumah tangga. Ia harus meningkatkan terus level produktivitasnya sesuai kemampuan dan prioritas agar hidupnya makin berkualitas. Langkah mudah untuk memulai produktivitas, menurut Yulia, pertama adalah dengan mengenalkan apa dan bagaimana produk diri kita. Kenalkan bahwa kita adalah orang yang ramah, mudah empati, atau sikap positif lainnya.

Kedua, konsep diri. Ini sangat penting terutama saat terjadi hal–hal yang tidak diinginkan dalam hidup. konsep diri positif terbentuk dari kebiasaan memasukkan hal–hal positif saja dalam pikiran. Ketika terjebak rintangan, ia tak akan mudah patah semangat. “Pikiran adalah direktur tubuh, ia mengendalikan semua. Maka jangan ijinkan hal negatif dari luar masuk dalam pikiran kita, karena pikiran, perkataan, perasaan, dan perbuatan kita akan mengikutinya,” sarannya.

Ketiga, produktiflah dengan berkaca pada sejarah produktivitas shahabiyah di jaman Nabi, sehingga produktivitas kita tidak kebablasan,” tandas Yulia.

Yuk, segera temukan langkah produktivitas Ibu yang paling tepat sesuai prioritas saat ini! (Meutia Geumala)  

Sumber : Majalah Ummi No.3/XXVII/Maret 2015, p.18-19    



Friday, November 16, 2012

.....Time is Money.....



Di suatu perjalanan dari Sukabumi menuju Jakarta, 3 bulan yang lalu, sebelum bulan Romadhon
Saat tertidur di perjalanan, terbangunlah Ust. Yusuf Mansur (di bangunkan Alloh SWT) dengan rasa kepingin pipis. Tidak jauh di depan ada sebuah SPBU, diputuskanlah untuk buang air kecil di SPBU tersebut.
Setelah mobil di parker dan turun dari mobil, terlihat berlari tergopoh-gopoh seorang satpam SPBU menghampirinya.
”Assalammualaikum pak ustad” salam si satpam.
“waalaikumsalam”, ustad menjawab.
“begini pak ustad saya ingin cerita alias ngobrol-ngobrol dengan pak ustad”, sambar si satpam. “oh ya pak nanti ya setelah saya buang air kecil, tunggu dulu aja disini sebentar”,kata ustad Yusuf sembari dia berjalan menuju toilet. Akan tetapi si satpam bukannya menunggu malahan dia mengikuti di belakang ustad, si Ustad pun mengulangi perkataannya,
”pak tunggu aja sebentar ga lama ko”.
Si satpampun nyengir sembari berkata,”saya mau solat asar dulu pak”. Ustad melihat jam tangannya yang menunjuk jam 16.55.
”baru mau solat asar? Ya sudah cepet waktu asar bentar lagi habis”. “ya pak, waktu tugas saya baru selesai jadi baru sempet solat”, jawab si satpam.
Di dalam toilet setelah selesai buang air kecil ustad Yusuf merenenung, “tadi tertidur terus kebangun karena pingin pipis, pas ada SPBU, terus mampir, terus ketemu si satpam. Pasti Allah SWT sudah menjodohkan saya dengan si satpam itu tadi. Ya sudah akan saya dengar dia mau cerita apa.”
Ustad Yusuf di ajak ngobrol di kantin SPBU
“Begini pak ustad saya udah bosen kerja di sini, saya ga betah”, kata si satpam
“lho ga betah? Udah berapa lama kerja di sini?”, Tanya Ustad
“udah 7 tahun pak”, jawab si satpam
“nah itu betah namanya,kerja udah 7 tahun”, kata ustad lagi
“bukan gitu pak, habis ga ada kerjaan lain pak”,
“terus kenapa bisa ga betah?”
“gajinya kecil pak ustad”
“emang berapa gaji?”
“gaji perbulan saya 1,7 jt”
“Alhamdulillah, segitu kurang pak?, bapak udah punya istri dan anak? pasti ada yang salah dengan bapak”, sambar Ustad Yusuf
Si satpampun nyengir kuda,”hehe,saya ambil motor pak dan saya punya istri dan seorang anak”
“ya benar tebakan saya, emang uang cicilannya berapa per bulan?”
“925.000 per bulan pak”. (pantes aja gaji kagak cukup,itu namanya besar pasak dari pada tiang)
“saya pingin hidup saya berubah pak ustad ga gini-gini aja”, lanjut si satpam.
“ada 2 syarat kalau anda pingin berubah. Yang pertama benerin dulu tuh solat bapak, bagai mana mau berubah kalo solat aja telat. Solatlah tepat pada waktunya, begitu suara adzan terdengar maka berhentilah dari semua aktivitas, bergegas ambil wudhu dan kerjakaan sholat.”
Sholat asar kurang lebih jam 15.00, tapi anda mengerjakan pukul 17.00, berarti bapak telat 2 jam. Sehari 5 waktu sholat, 2 x 5 = 10 jam, sebulan 10 x 30 = 300 jam (12,5 hari), setahun 12,5 x 12 = 150 hari (5 bln), masa kerja 7 x 5 = 35 bln (3 th). Itu baru di kali waktu kerja bapak 7 thn di SPBU, kalo di kali umur bapak sesudah masa baligh sampe sekarang? Udah habis waktu bapak sia-siakan, percepatan waktu bapak jelas kalah dengan teman-teman bapak, sodara-sodara bapak yang menunaikan ibadah solat tepat pada waktunya. Yang lain udah naik pesawat, bapak masih naik sepeda aja. Yang lain udah hidup enak bapak masih gini-gini aja.”, papar ustad Yusuf
Sambil manthuk-manthuk si satpam bertanya lagi,”syarat yang ke 2 apa pak ustad?”.
“yang ke 2 berinfak dan bersodakohlah kamu, sisihkanlah dari penghasilan bapak”.
Si satpampun nyamber,”OK pak saya mau benerin solat saya tapi untuk syarat yang ke 2 saya ga sanggup pak ustad, gimana mau infak dan sodakoh? Penghasilan saya aja pas-pasan bahkan kurang pak ustad”.
Sambil geleng-geleng pak ustad berkata,“semua makhluk yang ada di jagat raya ini sudah di atur rejekinya masing-masing oleh Alloh SWT, hewan-hewan dan tumbuhan tak terkecuali. Jangankan orang yang bekerja, pengangguran aja sudah di bagi rejekinya, apalagi yang bekerja, saya mau nanya, mana ada sekarang pengangguran yang tidak makan sehari-harinya?? Pasti makan, kalo ada yang tidak atau kurang makan, silahkan datang ke rumah saya untuk makan. Namanya syarat berarti wajib, mau berubah nasibnya ga?,
” mau pak ustad, tapi berapa sedekahnya ?”
” sebulan gaji deh ”
” sebulan gaji ? terus makan keluarga saya ?”
” gini aja bapak bilang ke atasan, bon dulu uang gaji bulan depan untuk infak dan sodakoh”. Si satpam terbengong-bengong, pertentangan batin sangatlah kuat antara iklas dan tidak, pecahlah itu perang baratayudha di dalam hatinya. Dan akhirnya sambil menghela nafas panjang si satpam berkata,”baiklah pak ustad 2 syarat tadi akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya, terimakasih pak ustad saya udah mengganggu waktu ustad.
“Alhamdulillah, nggak apa-apa, lakukanlah syarat tadi dengan semata-mata mengharap ridho Alloh SWT.”
Berpisahlah si satpam dengan Ustad Yusuf Mansyur.
Malam harinya si satpam gendu-gendu rasa dengan istrinya, apa-apa yang sudah di obrolin dengan Ustad Yusuf. Alhamdulillah sang istripun mendukung niatan dari suaminya dengan penuh hati.
Kemudian Pagi harinya si satpam menghadap kepada komandannya,
“ndan, saya mau ngebon uang gaji saya bulan depan, boleh ga ndan?”
“boleh aja tapi alasannya buat apa?” Tanya balik si komandan
Si satpam pun terdiam, iya iya buat apa? Masa alasan ngebon untuk infak dan sodakoh, kan ga lucu.
“heh di Tanya ko malah diam!!”, komandan menyentak
“ya ndan kemarin saya ketemu ustad yusuf mansyur, syarat untuk merubah nasib saya salah satunya bersodakoh, jadi saya ngebon mau buat sodakoh ndan”, jawabnya dengan lirih dan agak malu-malu.
Si komandannya ketawa…
“ hahaha masa kamu kasbon buat sodakoh ?, yang bener aja ? tp OK lah, nanti ya saya Tanya boz besar dulu, kan dia yang meng-ACC”.
Si komandan pun langsung bergegas menghadap boz untuk mengutarakan hajat si satpam anak buahnya.
“pagi boz, gini salah satu satpam anak buah saya, mau ngebon uang gajinya bulan depan, di ACC ga boz?”
” buat apaan ?”
” katanya sih mau di gunakan untuk sodakoh boss ”
“mau buat sodakoh?” sambil mantuk-mantuk dan cengar-cengir si boz menyambar lagi,” aneh banget, ya sudah, bilang ama dia boleh, akan saya kasih dia bon gaji bulan depan, suruh kesini dia ”
Si satpam masuk ruangan boss nya.
” katanya kamu mau kasbon gaji bulan depan dan uangnya mau buat sedekah ?”
” iya boss, saya mau merobah nasib ”
” merobah gimana ?
si satpam pun njelasin ke boss nya, kalo mau berubah nasib harus sedekah. dan si boss pun percaya gak percaya.
Singkat cerita si satpam udah mendapatkan uangnya dan telah menghabiskannya untuk berinfak dan sodakoh bagi sodara-sodara dan tetangganya yang kurang mampu.
Hari-hari pun berlalu, sampai tibalah di bulan yang baru. Alhamdulillah semua teman-temannya pada gajian, sendiri-sendiri ga gajian, karena bulan lalu udah di bon. Tapi hari demi hari berlalu, seorang teman satpamnya bertanya-tanya apakah si satpam itu tadi hidupnya serba kekurangan atau tidak, temannya pun melakukan survey, oh ternyata si satpam telah menjual motornya, pantes lempeng aja dia. Si bos pun terus bertanya-tanya sambil menunggu si satpam kenapa ga datang-datang lagi, lempeng amat tu bocah ya, merasa penasaran si bos pun memanggil si satpam untuk menghadapnya di kantin.
“gimana mau ngebon lagi ga untuk bulan depan, kan uang bulan ini udah ga ada?” tantang si bos.
“Alhamdulilah ga pak bos.”
Tiba-tiba temennya nyeletuk dari belakang,”dia abis jual motornya boz”.
“oh abis jual motor, pantes ka gak ngebon lagi.”
“ga bos saya jual motor ga buat saya dan keluarga makan bos, tetapi saya jual untuk menambahi sodakoh saya!”.elak si satpam
Tambah terbengong-bengong si bos dan penasaran,
“gini bos saya ceritain, selepas saya bersodakoh hari-hari terakhir di bulan lalu saya sempet terbesit di hati rasa was-was dan gundah. Mau makan apa saya dan keluarga saya bulan depan. Eh di awal bulan kemaren Alhamdulillah nama istri saya nyangkut di surat warisan keluarga di kampung, di situ tertera angka 17 jt untuk istri saya”.
Si bos pun nyamber lagi.”lah kenapa kamu jual itu motor?”
“saya malu sama ustad yusuf, seandainya pada saat itu saya jual motor untuk sodakoh pasti Alloh SWT akan membalasnya dengan lebih besar lagi. Alhamdulillah sekarang saya dan istri punya warung sembako di rumah sebagai usaha sampingan, semoga dengan ini nasib saya sedikit-sedikit akan berubah menjadi baik dan lebih mulia di mata Alloh SWT ”.
“Amin,”
Semoga dari cerita nyata ini dapat memotivasi teman-teman, bapak-bapak dan ibu-ibu untuk mencontoh si satpam tadi. Ada 2 syarat jika anda sekalian ingin merubah nasib anda di muka bumi ini dan mulia di mata Alloh SWT:
1. Sholat tepat waktu
2. Berinfak dan bersodakohlah dalam keadaan lapang maupun sempit dengan iklas
Kedua syarat tersebut dilakukan dengan semata-mata untuk mendapat ridho Alloh SWT.
(Narasumber: Ust. Yusuf Mansyur)

Sumber: http://kisahislami.com/sebuah-kisah-nyata-ust-yusuf-mansur/

Yang Penting Halal.......



Ust. Yusuf Mansyur cukup terkenal di kalangan kita sbg Ust yang konsisten mengusung materi “Sedekah” sebagai Solusi dari berbagai permasalahan dan problematika Hidup.
Mendengar dan menyimak ceramah Beliau yg begitu luar biasa rasanya hidup ini jadi tetap semangat dan optimis menghadapi masa depan yang bagimanapun suramnya menurut perspektif kita sebagai manusia biasa.
Pagi itu Beliau bercerita tentang seorang penambal Ban.
Suatu ketika di tahun 2008, Beliau lagi pengen menambal ban yg bocor dan akhirnya Beliau ketemu seorang Pemuda tukang tambal ban yg ternyata membawa kenangan yg cukup mendalam di hati Beliau.
Ceritanya Ust. Yusuf Mansyur sangat tertarik ketika melihat wajah Pemuda tsb yg terlihat cukup rapi utk ukuran seorang Tukang tambal ban. Akhirnya Beliau bertanya tentang latar belakang Pemuda tsb dan ternyata Pemuda tsb memang berlatar pendidikan yg cukup tinggi yaitu Sarjana Akuntansi…
Wah….luar biasa pikir Beliau seorang sarjana mau menjadi tukang tambal ban……
“Nggak papa Pak Ustadz yg penting pekerjaan saya halal” demikian jawab Pemuda tsb.
Ketika ditanya Beliau, sdh berapa lama jadi Penambal ban ? …Nah disinilah menurut Ustadz Mansyur permasalahan yg cukup serius….ternyata Pemuda tsb lulus S1 tahun 2000 nganggur 6 tahun s/d 2006, dan sejak 2 tahun yg lau kerja sbg Tukang tambal sampai Thn 2008 ketika ketemu Ust. Yusuf Mansyur tsb.
Karena perihatin Beliau tanya berapa penghasilan per hari nya ? Ternyata di jawab Pemuda tsb rata2 Rp. 15 ribu per hari.
Akhirnya setelah selesai menambal ban, Pak Ustadz berpesan ” Anak muda, coba lakukan ini, baca Surah Alwaqiah tiap Pagi dan Sore dan sedekahkan pendapatan mu, Moga Insya Allah penghidupan mu akan berubah”….
Singkat cerita karena kepadatan jadwal beliau dalam berdakwah, Pak Ustadz sdh tdk ingat lagi peristiwa tsb, tiba-2 di bulan Juni 2009 , +/- 1,5 tahun kemudian, ada undangan pembukaan sebuah Franchise dengan total Investasi +/- Rp. 5 Milyar.
Pada awalnya Pak Ustadz sempat bingung siapa yg mengundang ?, setelah di teliti dan dicari informasi……. ternyata Pemuda Sang Penambal Ban itulah yg mengundang Beliau…….. Subhanallah.
Ketika Beliau ketemu langsung dgn si Pemuda dan ditanya gimana ceritanya bisa berubah demikian dahsyatnya…..
Dengan jawaban yg ringkas dan sederhana Pemuda tsb menjawab :
” Tidak ada strategi yg khusus Pak Ustadz, saya hanya menerapkan pesan Bpk 1,5 tahun yg lalu, yaitu rutin dan istiqomah baca Surah Alwaqiah setiap pagi dan sore/malam, serta rajin bersedekah, itu saja, tapi dampaknya usaha dan ikhtiar saya selalu dimudahkan hingga bisa seperti sekarang ini….”.
Subhanallah…..ternyata utk merubah nasib tdk susah, cukup yakini ayat-ayatNYA dan rajin2 lah bersedekah….
Yang lebih dahsyat adalah ketika Pak Ustadz nanya : ” Kamu tahu tidak maksud dan arti ayat2 yang ada dalam surah Alwaqiah tsb ?”
“Tidak Pak Ustadz, saya hanya tahu membacanya aja” Jawab Pemuda tsb.
“Oke, kalau arti Surah Alwaqiah aja, tahu nggak ? ” kejar Pak Ustadz.
Dengan polosnya Pemuda tsb menjawab ” Nggak tahu juga Pak Ustadz”
Subhanallah, Allahuakbar……..inilah luar biasanya Alquran, orang yang membaca dan meyakininya saja meskipun tdk tahu artinya sama sekali bisa merasakan dampak dan berkah yang luar biasa……..apalagi kalau kita juga membaca, dan mau mempelajari shg mengerti arti dan maksud yg kita baca…tentunya dampaknya akan sangat2 luar biasa….
So…mari saat ini juga kita budayakan baca Alquran setiap hari….Tiada hari tanpa Alquran….dan kita pupuk kebiasaan gemar bersedekah…Moga kita diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat, Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.
(Disadur dan diintisarikan dari Acara Wisata Hati by Ustadz Yusuf Mansyur, di ANTV, hari Selasa, tgl. 25 Sept 2012. Jam 05.00 wib )

Sumber: http://kisahislami.com/niat-pengen-nasib-jadi-lebih-baik/

Saturday, January 21, 2012

"Are You Happy?"

Rasa prihatin seketika muncul bila dalam kelas pelatihan saya menangkap ekspresi tidak “happy” di dalam diri calon-calon eksekutif cemerlang. Banyak yang mengeluh keadaan organisasi yang mengharuskan birokrasi. Banyak juga yang merasakan menjadi victim karena “masih yunior”. Sebagian besar tidak rela pulang malam hari, masuk pada akhir pekan, dan tidak menemukan “manfaat” atau sisi positifnya bila harus berpartisipasi pada acara-acara yang bertujuan meningkatkan motivasi dan memberi julukan kegiatan semacam itu sebagai “ekstrakurikuler” yang memberatkan. 
Seorang yang lebih serius mencoba mengurai panjang lebar mengenai kesenjangan harapan dalam kehidupan pribadinya dengan ambisi karirnya. Oleh karena itu ia pada suatu saat harus “memilih” antara karier atau kehidupan pribadi. Kita tentu bertanya-tanya, apakah kehidupan di kantor memang berbeda 180 derajat dengan kehidupan rumah sehingga banyak orang mengejar keseimbangan rumah–kantor alias “work life balance?” Apakah kita tidak bisa menjadi satu orang yang sama-sama bahagia, saat di kantor dan di rumah? Apakah di kantor kita harus “menjadi orang lain” dan meninggalkan sebagian dari diri kita di rumah?
Menyalurkan “happiness” secara strategik
Seorang profesor di bidang marketing, Jennifer Aaker, sangat meyakini bahwa upaya untuk mengejar happiness di perusahaan akan membuahkan produktivitas yang luar biasa. Ia melakukan eksperimen dengan meminta karyawan disuatu perusahaan membuat  foto situasi-situasi yang membuat mereka paling happy di kantor, dan membuat rating dari angka 1–10. Hasil dari penelitian kecil ini menggambarkan  bagaimana orang di kantor tersebut bisa menemukan kebahagiaan dari hal-hal di dalam pekerjaannya. Banyak orang menyatakan kadar happiness yang muncul saat berhasil menyelesaikan suatu tugas yang sulit setara dengan kepuasan saat menuntaskan lari maraton atau kelegaan perasaan sehabis ujian. Penelitian ini juga menggambarkan bahwa banyak karyawan yang menemukan pengalaman-pengalaman “berarti” di pekerjaan yang sama rasanya dengan bila sedang menikmati entertainment, misalnya pada saat mendapatkan tugas baru, membantu teman menyelesaikan tugasnya, atau membawa anggota keluarga ke kantor. Ditemukan juga dalam penelitian ini bahwa hampir semua karyawan excited untuk menemukan momen-momen yang membahagiakan karena maraknya media sosial seperti Facebook dan Twitter, serta kebutuhan mereka untuk menunjukkan foto-foto kegiatan mereka di situs-situs tersebut.
Disadari atau tidak “happiness” sudah menjadi komoditas. Bila biasanya kita melihat happiness sebagai suatu keadaan yang merupakan output dari situasi, sikap dan suasana dari suatu organisasi tertentu, sudah saatnya kita menjadikan happiness tidak sekadar sebagai fitur, tetapi bahkan sebagai bisnis model yang mewarnai berbagai proses dalam situasi kerja. Hal inilah yang diyakini dan diterapkan oleh Tony Hsieh, CEO Zappos. Ia sadar betul bahwa pelanggan harus dilayani oleh orang-orang yang happy. Hanya orang-orang yang happylah yang bisa duduk lebih lama dengan pelanggan dan berusaha memahaminya. “Customer service is about making employees happy, so let’s just simplify it and at the same time, amplify our vision for our customers, employees, vendors, and peers.” Demikian tony Hsieh menyebarkan positive psychology kepada stakeholdersnya. Dengan fokus pada happiness dalam kultur perusahaan dan upaya customer servicenya, Zappos tidak harus susah-susah membuat para pelanggan berada ditengah-tengah kegiatan customer services Zappos. Pendekatan ini benar-benar pendekatan “beyond” money.
“Happiness” itu serius
Walaupun happiness selalu mengandung unsur “pleasure”, membentuk kultur yang diwarnai happiness tidaklah mudah. Kita tidak bisa santai-santai dan secara otomatis mendapatkan keadaan ini. Kita perlu bekerja keras mengupayakan status ini. Ahli positive psychology, Martin Seligman mengatakan, “it is not an easy task, but it is easily the most important one that we have in our lives. After all, what is the point of living if we are not happy?” Karyawan perlu mempersepsikan bahwa tuas kontrol yang mengatur happy dan tidaknya dia, ada dalam dirinya, bukan ditentukan oleh atasan atau perusahaan. Ia pun perlu merasakan kemajuan kinerja perusahaan untuk menjaga semangatnya. Kebersamaan dan keterikatan dengan rekan sejawat juga penting. Selain itu, perlunya diperjelas “arti dan nilai” dalam bekerja.
Kita bisa melihat bahwa sistem reward model “carrot and stick” sudah basi. Saat sekarang karyawan akan happy bila pekerjaannya terkait dengan hal yang lebih “besar” seperti pelestarian lingkungan, pengajaran, situasi yang melibatkan orang yang lebih banyak atau dunia yang lebih global. Bukankah Al Gore menginspirasi hampir separuh populasi dunia dengan kepeduliaannya terhadap perubahan iklim? Karyawan bisa happy dan lupa waktu saat bekerja keras bila ia tahu betapa pekerjaannya membuat impact terhadap dunia. Kita semua tahu bahwa kebahagiaan tidak bersumber dari uang, mobil bagus, rumah seperti istana, bukan? Prinsip inilah yang perlu dipegang pada saat kita menghadapi generasi muda yang kritis, dan persaingan bisnis yang tidak menentu ini.      


sumber: kompas cetak, Sabtu-21 Januari 2012
Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Friday, January 6, 2012

Tidak Ada Sistem Manusia Yang Sempurna

"Pemimpin yang baik, pernah jadi anak buah yang baik", demikian menurut Dahlan Iskan, mantan CEO PLN, yang juga menteri BUMN, seperti dikutip big boss--(Pak Ari kami biasa memanggilnya) dalam rapat pagi hingga siang tadi, 6/1/12. Jika seseorang tidak pernah menjadi yang terbaik di apapun posisinya sekarang, jangan harap dia akan naik pada posisi yang lebih tinggi. Parameter anak buah yang baik adalah tidak menjadi bagian persoalan bagi pemimpinnya. Tetapi justru dapat memberikan jalan keluar pada atasannya. Pun demikian saya (baca:Pak Ari) akan berusaha tidak merepotkan atasan saya.

Setiap pimpinan harus berani mengambil resiko, jangan takut dalam mengambil keputusan karena pasti ada korban.Tidak ada sistem yang dibuat manusia sempurna. Dalam sejarah penciptaan manusia, timbul protes iblis kepada Sang Pencipta. Iblis menolak saat Alah SWT memerintahkannya untuk sujud kepada Adam AS. Iblis juga menolak keputusan Allah SWT yang menunjuk Adam AS sebagai khalifah di bumi. Apalagi pro dan kontra atas nama sistem buatan manusia, pasti akan ada. Jadi jangan takut berbuat salah. Pun seorang bawahan yang baik, bawahan yang bijak tetap harus berbuat. Apapun, lebih baik berbuat salah daripada tidak berbuat salah, karena artinya tidak berbuat apa-apa.

Masih menurut big boss, analog dengan lokomotif kereta api berlari menjalankan roda di depan, tetapi sepuluh gerbong di belakang ngerem semua, pasti tidak akan jalan, percayalah!!. Di Tahun 2012, semua harus tancap gas. Mari kita berlari dan memperkecil gaya gesek. Dalam fisika, gaya gesek adalah gaya yang berlawanan dengan kecenderungan benda bergerak. Salah satu caranya adalah dengan lebih mengefektifkan lagi proses diskusi dan komunikasi antar kita. Dengan menerapkan integrasi proses, resource sharing dan TIK sebagai pilar problem solving, dapat menjadi salah satu alat dalam mencapai tujuan organisasi. Jika ini kita pegang,  maka  secara tidak langsung akan dapat meningkatkan empati antar kita, baik internal maupun eksternal yang lebih luas, menjadi lebih bermanfaat dan bermakna. Untuk lebih bermanfaat, kata kuncinya ada pada efektif, efisien dan berkualitas. Selamat berbuat!!!

Monday, September 7, 2009

Serba salah.....kuncinya---sabar.......

"Ada seorang anak dan ayahnya yang sedang berjalan sambil menuntun seekor keledai.......orang-orang bilang: pandir bener tu anak dan ayahnya....keledai kok dituntun!!!

Kemudian sang anak dan ayahnya, keduanya menaiki keledai bersamaan......kata orang: jahat bener tu anak dan ayahnya....keledai kecil dinaiki dua orang sekaligus...dimana nalarnya!!!

Sang ayahpun turun dan menuntun keledai yang dinaiki sang anak seorang diri.....orang-orang berujar......si anak kok tega bener sich sama ayahnya.......orang tua suruh jalan kaki, dianya enak-enakan naik di atas!!!

Akhirnya si anak turun dan mempersilakan sang ayah naik ke punggung keledai. Merekapun berjalan melanjutkan perjalanannya.....orang-orang yang melihatnya berkata: tega bener si ayah yang berbadan besar, membiarkan anaknya berjalan menuntun keledai yang dinaikinya......

Kedua anak dan ayah tersebut akhirnya memanggul keledai di sisa perjalanannya......orang-orang belum lelah menghakiminya: anak dan ayah sama pandirnya, keledai kok dipanggul....bak barang tak
berkaki saja......!!!

Gubrakkk!?!?$#~
!?!?......bingung kan......serba disalahkan.....kuncinya sabar dan ikhlas.....

Itu adalah sepenggal cerita di awal penyampaian tausiah oleh KH. Fauzie Zuhrie, S.Ag dalam acara Buka Bersama Anak Yatim di masjid Al Ijtihad Jakarta.

Friday, April 3, 2009

Untukmu Ibu Indonesia

by : Neno Warisman

Tak ada ibu , tak ada ibu
yang bodoh di dunia ini
walaupun ibu, walaupun ibu, ada yang tidak bersekolah tinggi

Tak ada ibu, tak ada ibu
yang tak punya hati nurani
walaupun ibu, walaupun ibu, ada sisi gelap yang tersembunyi

Tak ada ibu, tak ada ibu
yang tak mengenal tuhannya
walaupun ibu, walaupun ibu, dia belum-belum teguh beriman

Tak ada ibu, tak ada ibu
yang tak kuat dan teguh
walupun ibu, walaupun ibu, sesekali pasti dia mengeluh

Semua ibu adalah bintang
Semua ibu patut disayang
Semua ibu pasti memberikan yang terbaik tuk generasi masa depan

Sukses Itu..................HARUS!!!

Sukses itu sederhana,
sukses tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya,
sukses itu tidak serumit / serahasia.
Seperti kata Kiyosaki atau tokoh terkenal lainnya,
sukses itu tidak perlu dikejar, SUKSES adalah DIRI PRIBADI!
karena kesuksesan terbesar ada pada diri pribadi...
Bagaimana kita tercipta dari pertarungan jutaan sperma
untuk membuahi 1 ovum,
itu adalah kesuksesan pertama...
Bagaimana kita bisa lahir dengan memiki kelengkapan anggota tubuh,
itulah kesuksesan kedua...
Ketika kita mampu ke sekolah bahkan bisa menikmati studi
S1, sementara disisi lain pada setiap menitnya ada 10 siswa
drop out karena tidak mampu bayar SPP,
itulah kesuksesan ketiga...
Ketika kita bisa bekerja di sebuah institusi, sementara ada
46 juta orang menjadi pengangguran,
itulah kesuksesan keempat...
Ketika kita masih bisa makan tiga kali sehari, di saat ada
3 juta orang mati kelaparan setiap bulannya, itulah
kesuksesan yang kelima...
Sukses terjadi setiap hari,
Namun seringkali tidak disadari.... ..
Pernah menonton film Click! yg dibintangi Adam Sandler ?,
"Family comes first", begitu kata2 terakhir sang
tokoh kepada anaknya sebelum dia meninggal...
Saking sibuknya sang tokoh mengejar kesuksesan, ia bahkan
tidak sempat meluangkan waktu untuk anak & istrinya....
Ia tidak sempat menghadiri hari pemakaman ayahnya sendiri,
keluarga nya pun berantakan,
istrinya yang cantik menceraikannya,
anaknya jadi ngga kenal siapa ayahnya...
Sukses selalu dibiaskan oleh penulis buku laris
dengan membuat sukses menjadi hal yg rumit dan sukar didapatkan.. ..
Sukses tidak melulu soal harta...
Sukses adalah bagaimana mampu menghargai diri sendiri
sebagaimana menghargai orang lain
Sukses adalah mencintai & bangga terhadap diri Anda sendiri, mengerjakan apa yang disukai kapan saja dan di mana saja dengan cara yang benar dan dapat diterima oleh lingkungan ...
Sukses sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan,
sukses adalah mampu menikmati & bersyukur atas setiap detik kehidupan,
entah masa gembira ataupun masa-masa lainnya...
dan setelah itu
bersiap lagi menghadapi episode baru kehidupan lebih lanjut
... Sukses sejati adalah hidup benar di jalan-Nya,
tanpa merendahkan ciptaan-Nya yang lain
Pernahkah menyadari?
Kita sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang
Uang hanyalah alat tukar,
Yang kita beli sebenarnya adalah WAKTU kita ....
Contoh mungkin kita harus kerja siang malam untuk membayar KPR
selama 15 tahun atau membeli mobil selama 3 tahun.
Kita hanya membarter waktu untuk mendapatkan uang .....
Aset terbesar kita bukanlah harta tapi diri sendiri...
Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat dibanding yang kurang..
Itu sebabnya kenapa harga 2 jam-nya Kiyosaki bisa dibayar 200 juta
Itu sebabnya kenapa Nike berani membayar Tiger Woods &
Michael Jordan sebesar 200 juta dollar, hanya untuk memakai produknya.
Suatu produk bermerk menjadi mahal/berharga bukan karena merk-nya,
tapi karena produk itu dipakai oleh siapa...
Itu sebabnya bola basket bekas dipakai Michael Jordan diperebutkan dan bisa terjual 80 juta dollar, sedangkan bola basket bekas dengan merk sama,
bila kita jual harganya justru malah turun...
Hidup ini seperti mengejar fatamorgana,
Semakin dikejar..semakin menyisakan sedikit waktu untuk kita bisa berbagi dengan orang-orang tercinta di sekitar kita.
Bisakah kita menjawab suatu pertanyaan :
kapan kita dipanggil menghadap-Nya?
Kalau tidak bisa dan tidak tahu jawabannya,
maka sudah masanya meluangkan waktu untuk sungkem dan memanjakan
orangtua yang begitu mencintai kita,
untuk memeluk hangat pasangan kita,
untuk mengatakan "I love you" kepada orang2 yang kita cintai...
Lakukanlah selagi punya waktu,
selagi masih sempat....
Enjoy Ur Life
LIFE is so SHORT....

---Renungan tentang KESUKSESAN (forwarded from a friend)---

Wednesday, July 25, 2007

Alhamdulillah......


Jalani hidup ini apa adanya, ngalir kemanapun arah angin berhembus ...

tak pernah punya target apapun dalam kehidupan ini, ambisi dan cita tak sebanding dengan kemampuan, tak berani berharap lebih... Tapi kita tak pernah tahu, hembusan angin telah menghempaskan diri seperti sekarang ini, Alhamdulillah..... tak ada yang tepat selain syukur padaNya, slalu.........

Kepercayaan adalah amanah, keberhasilah adalah ujian, Kebahagiaan itu milik kita..........