Pages

Showing posts with label attitude. Show all posts
Showing posts with label attitude. Show all posts

Thursday, July 4, 2013

It’s Not Too Late to Change Your Habits

by Leo Babauta

A (slightly) older reader wrote to me recently, wanting to know how to change her bad habits ingrained after so many many years of doing them. She wanted to know, “Is it too late to change?”

And I can understand the feeling. Doing bad habits for years makes them deeply entrenched, and getting out of that trench might seem impossible, hopeless. I once was stuck, and felt the weight of built up bad habits crushing, smothering, burying me. I felt helpless, like I had no control over myself, and was too discouraged to even try to change.

This discouragement is what does it. It’s not that changing bad habits is impossible. But if we are so discouraged we don’t try, we will never change them. To try and to fail is of little consequence, but to never start at all is fatal to the habit change. And I’m here to tell you, that changing bad habits is not impossible. No matter how long you’ve done them, no matter how many decades. It can be done. By you. By taking a single step.

Here’s how.
Know as you start that you aren’t changing a mountain. You don’t have to change years of bad actions. Those actions are gone — they’ve evaporated into the ether, and you can forget them. Forgive yourself for them, then forget them. You don’t need to run a marathon to change a habit. You just need to take a step. And you can take a step.

Consider for a moment your bad habit. You might have a dozen, but choose an easy one. Not the one you’re most afraid of — the one you think you can lick.
Take a step back and think about this habit. When do you do it? What things trigger the habit — stress, food, drinking, socializing, boredom, sadness, waking, being criticized? What need does the habit fulfill for you? Know that it does fulfill a real need, and that’s why you keep doing it.

Realize something — stop here to drive home for yourself a crucial, crucial point: you must realize that you don’t need this habit to fulfill this need. You don’t need the habit. You can deal with stress in healthier ways. You can beat boredom. You can cope. You do not need the habit, and you will learn better ones with practice. You might be feeling a bit overwhelmed at this point, but you’ve done the hardest part. Now you just need to take one more little step.

Commit to yourself to make a small tiny insignificant but powerful step each day. Commit fully, not half-assed. Commit by writing it down, and putting it up on your wall. Commit by telling a friend about it, and asking for help. Commit by putting it on Facebook, Twitter, Google+, your blog, a forum you frequent. Be all in.

Find a replacement habit. One that is healthier. One that fulfills the need. One that is easy. One that you can do after your trigger, instead of your bad habit. One that you enjoy and will look forward to. If you need to relieve stress, for example, consider walking, or pushups, or deep breathing, or self-massage.
You’re now ready to climb out of your trench. Remember, just a tiny tiny step.

Notice your urge to do the habit. Pause. Don’t do the bad habit. Let the urge pass, then do your new replacement habit.

Repeat, noticing the urge, letting the urge pass, not doing the bad habit, doing the good habit instead. You might mess up, but that’s OK. You’ll get better with practice.

Practice as often as you can, every day. You’ll get really good at it. Don’t worry about how long it takes. Keep doing it, one urge at a time.

Know, Consider, Realize, Commit, Find, Notice, Repeat, Practice. These are easy steps that don’t take a lot of work. You can do them as you sit here, reading this post.
It’s never too late. There is no habit that can’t be broken by the pressure of a single footprint. Make that footprint by taking a single step, today.


Friday, November 16, 2012

.....Time is Money.....



Di suatu perjalanan dari Sukabumi menuju Jakarta, 3 bulan yang lalu, sebelum bulan Romadhon
Saat tertidur di perjalanan, terbangunlah Ust. Yusuf Mansur (di bangunkan Alloh SWT) dengan rasa kepingin pipis. Tidak jauh di depan ada sebuah SPBU, diputuskanlah untuk buang air kecil di SPBU tersebut.
Setelah mobil di parker dan turun dari mobil, terlihat berlari tergopoh-gopoh seorang satpam SPBU menghampirinya.
”Assalammualaikum pak ustad” salam si satpam.
“waalaikumsalam”, ustad menjawab.
“begini pak ustad saya ingin cerita alias ngobrol-ngobrol dengan pak ustad”, sambar si satpam. “oh ya pak nanti ya setelah saya buang air kecil, tunggu dulu aja disini sebentar”,kata ustad Yusuf sembari dia berjalan menuju toilet. Akan tetapi si satpam bukannya menunggu malahan dia mengikuti di belakang ustad, si Ustad pun mengulangi perkataannya,
”pak tunggu aja sebentar ga lama ko”.
Si satpampun nyengir sembari berkata,”saya mau solat asar dulu pak”. Ustad melihat jam tangannya yang menunjuk jam 16.55.
”baru mau solat asar? Ya sudah cepet waktu asar bentar lagi habis”. “ya pak, waktu tugas saya baru selesai jadi baru sempet solat”, jawab si satpam.
Di dalam toilet setelah selesai buang air kecil ustad Yusuf merenenung, “tadi tertidur terus kebangun karena pingin pipis, pas ada SPBU, terus mampir, terus ketemu si satpam. Pasti Allah SWT sudah menjodohkan saya dengan si satpam itu tadi. Ya sudah akan saya dengar dia mau cerita apa.”
Ustad Yusuf di ajak ngobrol di kantin SPBU
“Begini pak ustad saya udah bosen kerja di sini, saya ga betah”, kata si satpam
“lho ga betah? Udah berapa lama kerja di sini?”, Tanya Ustad
“udah 7 tahun pak”, jawab si satpam
“nah itu betah namanya,kerja udah 7 tahun”, kata ustad lagi
“bukan gitu pak, habis ga ada kerjaan lain pak”,
“terus kenapa bisa ga betah?”
“gajinya kecil pak ustad”
“emang berapa gaji?”
“gaji perbulan saya 1,7 jt”
“Alhamdulillah, segitu kurang pak?, bapak udah punya istri dan anak? pasti ada yang salah dengan bapak”, sambar Ustad Yusuf
Si satpampun nyengir kuda,”hehe,saya ambil motor pak dan saya punya istri dan seorang anak”
“ya benar tebakan saya, emang uang cicilannya berapa per bulan?”
“925.000 per bulan pak”. (pantes aja gaji kagak cukup,itu namanya besar pasak dari pada tiang)
“saya pingin hidup saya berubah pak ustad ga gini-gini aja”, lanjut si satpam.
“ada 2 syarat kalau anda pingin berubah. Yang pertama benerin dulu tuh solat bapak, bagai mana mau berubah kalo solat aja telat. Solatlah tepat pada waktunya, begitu suara adzan terdengar maka berhentilah dari semua aktivitas, bergegas ambil wudhu dan kerjakaan sholat.”
Sholat asar kurang lebih jam 15.00, tapi anda mengerjakan pukul 17.00, berarti bapak telat 2 jam. Sehari 5 waktu sholat, 2 x 5 = 10 jam, sebulan 10 x 30 = 300 jam (12,5 hari), setahun 12,5 x 12 = 150 hari (5 bln), masa kerja 7 x 5 = 35 bln (3 th). Itu baru di kali waktu kerja bapak 7 thn di SPBU, kalo di kali umur bapak sesudah masa baligh sampe sekarang? Udah habis waktu bapak sia-siakan, percepatan waktu bapak jelas kalah dengan teman-teman bapak, sodara-sodara bapak yang menunaikan ibadah solat tepat pada waktunya. Yang lain udah naik pesawat, bapak masih naik sepeda aja. Yang lain udah hidup enak bapak masih gini-gini aja.”, papar ustad Yusuf
Sambil manthuk-manthuk si satpam bertanya lagi,”syarat yang ke 2 apa pak ustad?”.
“yang ke 2 berinfak dan bersodakohlah kamu, sisihkanlah dari penghasilan bapak”.
Si satpampun nyamber,”OK pak saya mau benerin solat saya tapi untuk syarat yang ke 2 saya ga sanggup pak ustad, gimana mau infak dan sodakoh? Penghasilan saya aja pas-pasan bahkan kurang pak ustad”.
Sambil geleng-geleng pak ustad berkata,“semua makhluk yang ada di jagat raya ini sudah di atur rejekinya masing-masing oleh Alloh SWT, hewan-hewan dan tumbuhan tak terkecuali. Jangankan orang yang bekerja, pengangguran aja sudah di bagi rejekinya, apalagi yang bekerja, saya mau nanya, mana ada sekarang pengangguran yang tidak makan sehari-harinya?? Pasti makan, kalo ada yang tidak atau kurang makan, silahkan datang ke rumah saya untuk makan. Namanya syarat berarti wajib, mau berubah nasibnya ga?,
” mau pak ustad, tapi berapa sedekahnya ?”
” sebulan gaji deh ”
” sebulan gaji ? terus makan keluarga saya ?”
” gini aja bapak bilang ke atasan, bon dulu uang gaji bulan depan untuk infak dan sodakoh”. Si satpam terbengong-bengong, pertentangan batin sangatlah kuat antara iklas dan tidak, pecahlah itu perang baratayudha di dalam hatinya. Dan akhirnya sambil menghela nafas panjang si satpam berkata,”baiklah pak ustad 2 syarat tadi akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya, terimakasih pak ustad saya udah mengganggu waktu ustad.
“Alhamdulillah, nggak apa-apa, lakukanlah syarat tadi dengan semata-mata mengharap ridho Alloh SWT.”
Berpisahlah si satpam dengan Ustad Yusuf Mansyur.
Malam harinya si satpam gendu-gendu rasa dengan istrinya, apa-apa yang sudah di obrolin dengan Ustad Yusuf. Alhamdulillah sang istripun mendukung niatan dari suaminya dengan penuh hati.
Kemudian Pagi harinya si satpam menghadap kepada komandannya,
“ndan, saya mau ngebon uang gaji saya bulan depan, boleh ga ndan?”
“boleh aja tapi alasannya buat apa?” Tanya balik si komandan
Si satpam pun terdiam, iya iya buat apa? Masa alasan ngebon untuk infak dan sodakoh, kan ga lucu.
“heh di Tanya ko malah diam!!”, komandan menyentak
“ya ndan kemarin saya ketemu ustad yusuf mansyur, syarat untuk merubah nasib saya salah satunya bersodakoh, jadi saya ngebon mau buat sodakoh ndan”, jawabnya dengan lirih dan agak malu-malu.
Si komandannya ketawa…
“ hahaha masa kamu kasbon buat sodakoh ?, yang bener aja ? tp OK lah, nanti ya saya Tanya boz besar dulu, kan dia yang meng-ACC”.
Si komandan pun langsung bergegas menghadap boz untuk mengutarakan hajat si satpam anak buahnya.
“pagi boz, gini salah satu satpam anak buah saya, mau ngebon uang gajinya bulan depan, di ACC ga boz?”
” buat apaan ?”
” katanya sih mau di gunakan untuk sodakoh boss ”
“mau buat sodakoh?” sambil mantuk-mantuk dan cengar-cengir si boz menyambar lagi,” aneh banget, ya sudah, bilang ama dia boleh, akan saya kasih dia bon gaji bulan depan, suruh kesini dia ”
Si satpam masuk ruangan boss nya.
” katanya kamu mau kasbon gaji bulan depan dan uangnya mau buat sedekah ?”
” iya boss, saya mau merobah nasib ”
” merobah gimana ?
si satpam pun njelasin ke boss nya, kalo mau berubah nasib harus sedekah. dan si boss pun percaya gak percaya.
Singkat cerita si satpam udah mendapatkan uangnya dan telah menghabiskannya untuk berinfak dan sodakoh bagi sodara-sodara dan tetangganya yang kurang mampu.
Hari-hari pun berlalu, sampai tibalah di bulan yang baru. Alhamdulillah semua teman-temannya pada gajian, sendiri-sendiri ga gajian, karena bulan lalu udah di bon. Tapi hari demi hari berlalu, seorang teman satpamnya bertanya-tanya apakah si satpam itu tadi hidupnya serba kekurangan atau tidak, temannya pun melakukan survey, oh ternyata si satpam telah menjual motornya, pantes lempeng aja dia. Si bos pun terus bertanya-tanya sambil menunggu si satpam kenapa ga datang-datang lagi, lempeng amat tu bocah ya, merasa penasaran si bos pun memanggil si satpam untuk menghadapnya di kantin.
“gimana mau ngebon lagi ga untuk bulan depan, kan uang bulan ini udah ga ada?” tantang si bos.
“Alhamdulilah ga pak bos.”
Tiba-tiba temennya nyeletuk dari belakang,”dia abis jual motornya boz”.
“oh abis jual motor, pantes ka gak ngebon lagi.”
“ga bos saya jual motor ga buat saya dan keluarga makan bos, tetapi saya jual untuk menambahi sodakoh saya!”.elak si satpam
Tambah terbengong-bengong si bos dan penasaran,
“gini bos saya ceritain, selepas saya bersodakoh hari-hari terakhir di bulan lalu saya sempet terbesit di hati rasa was-was dan gundah. Mau makan apa saya dan keluarga saya bulan depan. Eh di awal bulan kemaren Alhamdulillah nama istri saya nyangkut di surat warisan keluarga di kampung, di situ tertera angka 17 jt untuk istri saya”.
Si bos pun nyamber lagi.”lah kenapa kamu jual itu motor?”
“saya malu sama ustad yusuf, seandainya pada saat itu saya jual motor untuk sodakoh pasti Alloh SWT akan membalasnya dengan lebih besar lagi. Alhamdulillah sekarang saya dan istri punya warung sembako di rumah sebagai usaha sampingan, semoga dengan ini nasib saya sedikit-sedikit akan berubah menjadi baik dan lebih mulia di mata Alloh SWT ”.
“Amin,”
Semoga dari cerita nyata ini dapat memotivasi teman-teman, bapak-bapak dan ibu-ibu untuk mencontoh si satpam tadi. Ada 2 syarat jika anda sekalian ingin merubah nasib anda di muka bumi ini dan mulia di mata Alloh SWT:
1. Sholat tepat waktu
2. Berinfak dan bersodakohlah dalam keadaan lapang maupun sempit dengan iklas
Kedua syarat tersebut dilakukan dengan semata-mata untuk mendapat ridho Alloh SWT.
(Narasumber: Ust. Yusuf Mansyur)

Sumber: http://kisahislami.com/sebuah-kisah-nyata-ust-yusuf-mansur/

Yang Penting Halal.......



Ust. Yusuf Mansyur cukup terkenal di kalangan kita sbg Ust yang konsisten mengusung materi “Sedekah” sebagai Solusi dari berbagai permasalahan dan problematika Hidup.
Mendengar dan menyimak ceramah Beliau yg begitu luar biasa rasanya hidup ini jadi tetap semangat dan optimis menghadapi masa depan yang bagimanapun suramnya menurut perspektif kita sebagai manusia biasa.
Pagi itu Beliau bercerita tentang seorang penambal Ban.
Suatu ketika di tahun 2008, Beliau lagi pengen menambal ban yg bocor dan akhirnya Beliau ketemu seorang Pemuda tukang tambal ban yg ternyata membawa kenangan yg cukup mendalam di hati Beliau.
Ceritanya Ust. Yusuf Mansyur sangat tertarik ketika melihat wajah Pemuda tsb yg terlihat cukup rapi utk ukuran seorang Tukang tambal ban. Akhirnya Beliau bertanya tentang latar belakang Pemuda tsb dan ternyata Pemuda tsb memang berlatar pendidikan yg cukup tinggi yaitu Sarjana Akuntansi…
Wah….luar biasa pikir Beliau seorang sarjana mau menjadi tukang tambal ban……
“Nggak papa Pak Ustadz yg penting pekerjaan saya halal” demikian jawab Pemuda tsb.
Ketika ditanya Beliau, sdh berapa lama jadi Penambal ban ? …Nah disinilah menurut Ustadz Mansyur permasalahan yg cukup serius….ternyata Pemuda tsb lulus S1 tahun 2000 nganggur 6 tahun s/d 2006, dan sejak 2 tahun yg lau kerja sbg Tukang tambal sampai Thn 2008 ketika ketemu Ust. Yusuf Mansyur tsb.
Karena perihatin Beliau tanya berapa penghasilan per hari nya ? Ternyata di jawab Pemuda tsb rata2 Rp. 15 ribu per hari.
Akhirnya setelah selesai menambal ban, Pak Ustadz berpesan ” Anak muda, coba lakukan ini, baca Surah Alwaqiah tiap Pagi dan Sore dan sedekahkan pendapatan mu, Moga Insya Allah penghidupan mu akan berubah”….
Singkat cerita karena kepadatan jadwal beliau dalam berdakwah, Pak Ustadz sdh tdk ingat lagi peristiwa tsb, tiba-2 di bulan Juni 2009 , +/- 1,5 tahun kemudian, ada undangan pembukaan sebuah Franchise dengan total Investasi +/- Rp. 5 Milyar.
Pada awalnya Pak Ustadz sempat bingung siapa yg mengundang ?, setelah di teliti dan dicari informasi……. ternyata Pemuda Sang Penambal Ban itulah yg mengundang Beliau…….. Subhanallah.
Ketika Beliau ketemu langsung dgn si Pemuda dan ditanya gimana ceritanya bisa berubah demikian dahsyatnya…..
Dengan jawaban yg ringkas dan sederhana Pemuda tsb menjawab :
” Tidak ada strategi yg khusus Pak Ustadz, saya hanya menerapkan pesan Bpk 1,5 tahun yg lalu, yaitu rutin dan istiqomah baca Surah Alwaqiah setiap pagi dan sore/malam, serta rajin bersedekah, itu saja, tapi dampaknya usaha dan ikhtiar saya selalu dimudahkan hingga bisa seperti sekarang ini….”.
Subhanallah…..ternyata utk merubah nasib tdk susah, cukup yakini ayat-ayatNYA dan rajin2 lah bersedekah….
Yang lebih dahsyat adalah ketika Pak Ustadz nanya : ” Kamu tahu tidak maksud dan arti ayat2 yang ada dalam surah Alwaqiah tsb ?”
“Tidak Pak Ustadz, saya hanya tahu membacanya aja” Jawab Pemuda tsb.
“Oke, kalau arti Surah Alwaqiah aja, tahu nggak ? ” kejar Pak Ustadz.
Dengan polosnya Pemuda tsb menjawab ” Nggak tahu juga Pak Ustadz”
Subhanallah, Allahuakbar……..inilah luar biasanya Alquran, orang yang membaca dan meyakininya saja meskipun tdk tahu artinya sama sekali bisa merasakan dampak dan berkah yang luar biasa……..apalagi kalau kita juga membaca, dan mau mempelajari shg mengerti arti dan maksud yg kita baca…tentunya dampaknya akan sangat2 luar biasa….
So…mari saat ini juga kita budayakan baca Alquran setiap hari….Tiada hari tanpa Alquran….dan kita pupuk kebiasaan gemar bersedekah…Moga kita diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat, Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.
(Disadur dan diintisarikan dari Acara Wisata Hati by Ustadz Yusuf Mansyur, di ANTV, hari Selasa, tgl. 25 Sept 2012. Jam 05.00 wib )

Sumber: http://kisahislami.com/niat-pengen-nasib-jadi-lebih-baik/

Saturday, January 21, 2012

"Are You Happy?"

Rasa prihatin seketika muncul bila dalam kelas pelatihan saya menangkap ekspresi tidak “happy” di dalam diri calon-calon eksekutif cemerlang. Banyak yang mengeluh keadaan organisasi yang mengharuskan birokrasi. Banyak juga yang merasakan menjadi victim karena “masih yunior”. Sebagian besar tidak rela pulang malam hari, masuk pada akhir pekan, dan tidak menemukan “manfaat” atau sisi positifnya bila harus berpartisipasi pada acara-acara yang bertujuan meningkatkan motivasi dan memberi julukan kegiatan semacam itu sebagai “ekstrakurikuler” yang memberatkan. 
Seorang yang lebih serius mencoba mengurai panjang lebar mengenai kesenjangan harapan dalam kehidupan pribadinya dengan ambisi karirnya. Oleh karena itu ia pada suatu saat harus “memilih” antara karier atau kehidupan pribadi. Kita tentu bertanya-tanya, apakah kehidupan di kantor memang berbeda 180 derajat dengan kehidupan rumah sehingga banyak orang mengejar keseimbangan rumah–kantor alias “work life balance?” Apakah kita tidak bisa menjadi satu orang yang sama-sama bahagia, saat di kantor dan di rumah? Apakah di kantor kita harus “menjadi orang lain” dan meninggalkan sebagian dari diri kita di rumah?
Menyalurkan “happiness” secara strategik
Seorang profesor di bidang marketing, Jennifer Aaker, sangat meyakini bahwa upaya untuk mengejar happiness di perusahaan akan membuahkan produktivitas yang luar biasa. Ia melakukan eksperimen dengan meminta karyawan disuatu perusahaan membuat  foto situasi-situasi yang membuat mereka paling happy di kantor, dan membuat rating dari angka 1–10. Hasil dari penelitian kecil ini menggambarkan  bagaimana orang di kantor tersebut bisa menemukan kebahagiaan dari hal-hal di dalam pekerjaannya. Banyak orang menyatakan kadar happiness yang muncul saat berhasil menyelesaikan suatu tugas yang sulit setara dengan kepuasan saat menuntaskan lari maraton atau kelegaan perasaan sehabis ujian. Penelitian ini juga menggambarkan bahwa banyak karyawan yang menemukan pengalaman-pengalaman “berarti” di pekerjaan yang sama rasanya dengan bila sedang menikmati entertainment, misalnya pada saat mendapatkan tugas baru, membantu teman menyelesaikan tugasnya, atau membawa anggota keluarga ke kantor. Ditemukan juga dalam penelitian ini bahwa hampir semua karyawan excited untuk menemukan momen-momen yang membahagiakan karena maraknya media sosial seperti Facebook dan Twitter, serta kebutuhan mereka untuk menunjukkan foto-foto kegiatan mereka di situs-situs tersebut.
Disadari atau tidak “happiness” sudah menjadi komoditas. Bila biasanya kita melihat happiness sebagai suatu keadaan yang merupakan output dari situasi, sikap dan suasana dari suatu organisasi tertentu, sudah saatnya kita menjadikan happiness tidak sekadar sebagai fitur, tetapi bahkan sebagai bisnis model yang mewarnai berbagai proses dalam situasi kerja. Hal inilah yang diyakini dan diterapkan oleh Tony Hsieh, CEO Zappos. Ia sadar betul bahwa pelanggan harus dilayani oleh orang-orang yang happy. Hanya orang-orang yang happylah yang bisa duduk lebih lama dengan pelanggan dan berusaha memahaminya. “Customer service is about making employees happy, so let’s just simplify it and at the same time, amplify our vision for our customers, employees, vendors, and peers.” Demikian tony Hsieh menyebarkan positive psychology kepada stakeholdersnya. Dengan fokus pada happiness dalam kultur perusahaan dan upaya customer servicenya, Zappos tidak harus susah-susah membuat para pelanggan berada ditengah-tengah kegiatan customer services Zappos. Pendekatan ini benar-benar pendekatan “beyond” money.
“Happiness” itu serius
Walaupun happiness selalu mengandung unsur “pleasure”, membentuk kultur yang diwarnai happiness tidaklah mudah. Kita tidak bisa santai-santai dan secara otomatis mendapatkan keadaan ini. Kita perlu bekerja keras mengupayakan status ini. Ahli positive psychology, Martin Seligman mengatakan, “it is not an easy task, but it is easily the most important one that we have in our lives. After all, what is the point of living if we are not happy?” Karyawan perlu mempersepsikan bahwa tuas kontrol yang mengatur happy dan tidaknya dia, ada dalam dirinya, bukan ditentukan oleh atasan atau perusahaan. Ia pun perlu merasakan kemajuan kinerja perusahaan untuk menjaga semangatnya. Kebersamaan dan keterikatan dengan rekan sejawat juga penting. Selain itu, perlunya diperjelas “arti dan nilai” dalam bekerja.
Kita bisa melihat bahwa sistem reward model “carrot and stick” sudah basi. Saat sekarang karyawan akan happy bila pekerjaannya terkait dengan hal yang lebih “besar” seperti pelestarian lingkungan, pengajaran, situasi yang melibatkan orang yang lebih banyak atau dunia yang lebih global. Bukankah Al Gore menginspirasi hampir separuh populasi dunia dengan kepeduliaannya terhadap perubahan iklim? Karyawan bisa happy dan lupa waktu saat bekerja keras bila ia tahu betapa pekerjaannya membuat impact terhadap dunia. Kita semua tahu bahwa kebahagiaan tidak bersumber dari uang, mobil bagus, rumah seperti istana, bukan? Prinsip inilah yang perlu dipegang pada saat kita menghadapi generasi muda yang kritis, dan persaingan bisnis yang tidak menentu ini.      


sumber: kompas cetak, Sabtu-21 Januari 2012
Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Monday, November 8, 2010

Pentingnya Melayani

Suatu siang, Joko bersama istrinya turun dari angkot tepat di depan kantor kelurahan dimana Joko sekeluarga sudah menjadi warga selama lebih dari 10 tahun terakhir. Begitu turun dari angkot, Joko bersama istrinya melangkah masuk ke dalam untuk mengurus perpanjangan KTPnya yang sudah jatuh tempo.
Di salah satu sudut ruangan, Joko dan istrinya menghampiri seorang laki-laki setengah baya, berseragam coklat dengan atribut kepegawaian di lengannya dan nama ‘Supriyono’ tercantum di dadanya. “Selamat siang pak, kami mau memperpanjang KTP,” kata Joko kepada laki-laki dengan model rambut bang haji Rhoma Irama itu. Dari balik meja kerjanya yang mungil, laki-laki itu menjawab tanpa melemparkan senyum – mungkin agar nampak berwibawa, “Syarat-syaratnya sudah lengkap?” Joko segera menyenggol istrinya yang sontak sibuk mengeluarkan kantong plastik berisi KTP asli milik mereka dan pas foto dari dalam tas. Sambil mengernyitkan dahi diantara kepulan asap rokoknya, pria berseragam itu bertanya,”Lho kok cuma ini? Mana fotokopi Kartu Keluarga, pengantar RT…Lha ini, pas fotonya juga salah…Tahun kelahiran ganjil warna fotonya harus merah, tahun kelahiran genap warna fotonya harus biru.”

Oalah…Joko baru tahu ternyata sekarang mau memperpanjang KTP persyaratannya banyak, tidak hanya sekedar menyerahkan KTP asli yang sudah habis masa berlakunya dan pas foto, seperti yang selalu ia lakukan sejak usia 17 tahun. Joko pun bertanya kenapa ke petugas itu. Kenapa warna foto harus dibedakan antara tahun kelahiran ganjil dan genap? Apa manfaatnya, warna saja kok dipermasalahkan? Kenapa harus menyerahkan fotokopi kartu keluarga padahal kartu keluarga Joko yang menerbitkan juga kantor kelurahan itu, artinya data-data keluarga Joko seharusnya juga masih disimpan oleh kantor Kelurahan? Sang petugas – masih tanpa senyum – mencoba memberikan penjelasan,”Ya…itu aturannya.” Nampaknya hanya penjelasan seperti itu yang bisa dia berikan ke Joko dan istrinya, yang notabene sudah menjadi bangsa Indonesia sejak nenek moyang mereka.
Joko hanya bisa mengajak istrinya pulang sambil bergumam,”Bu, percuma kamu jadi cucu veteran. Kakekmu dulu ikut perang di Kebumen, bapakmu dulu dikirim perang ke Irian, kita sekarang mau ngurus KTP saja sulit.” Istri Joko menimpali,”Nggak cuma kita, Pak. Semua juga begitu kalau mau ngurus KTP. Wong sistemnya yang dibuat sulit.”
Ya, karena sistem yang dibuat sulit, Joko dan istrinya harus mengeluarkan uang lagi untuk naik angkot, fotokopi kartu keluarga, ke studio foto untuk bikin pas foto merah dan biru, membeli sekaleng biskuit untuk oleh-oleh Pak RT saat meminta surat keterangan nanti serta tentunya membayar biaya pembuatan KTP yang seharusnya gratis. Alangkah indahnya jika para petinggi negara ini dan mereka yang dipekerjakan oleh rakyat mau menundukkan kepala untuk melihat kesulitan mereka yang ada di bawah. Rakyat sebangsa dan setanah air yang seharusnya dilayani, dibantu dan dipermudah tidak seharusnya dibuat sulit oleh sistem dan birokrasi yang kadang terkesan mengada-ada.
Bagaimana dengan anda? Ada pengalaman berurusan dengan birokrat?

Menengoklah ke bawah

“Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?”, jargon yang akrab dengan sebagian birokrat dan Pegawai Negeri Sipil / PNS di Indonesia. Sikap unik ini bahkan sempat menginspirasi iklan televisi salah satu produk rokok.
Di negeri bule, Pegawai Negeri Sipil disebut sebagai Civil Servant atau Public Servant, yang artinya adalah PELAYAN MASYARAKAT. Mereka digaji dari uang rakyat dan mereka bekerja untuk melayani masyarakat. Di Indonesia, mengapa tidak semua PNS memiliki jiwa melayani? Mungkin karena sebagian dari PNS belum memahami untuk siapa mereka bekerja, atau mungkin mereka tidak mau peduli karena setiap bulan apa yang mereka terima tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Atau justru mereka sebenarnya ingin memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, tapi apa daya sistem dan birokrasi yang ada tidak mendukung. Itulah opini saya.
Apapun kondisinya, seharusnya tidak ada alasan untuk tidak memberikan service yang terbaik bagi konsumen kita. Demikian juga kita yang sudah memiliki posisi di radio. Semakin tinggi posisi kita, berarti semakin banyak juga stake holder yang harus kita layani. Tidak hanya direktur dan owner, tapi juga semua crew, pemasang iklan hingga pendengar harus kita layani dengan baik. Kita harus memberikan service terbaik bagi penyiar agar mereka bisa dengan baik melayani kebutuhan pendengar. Kita harus bisa memberikan service terbaik untuk receptionist agar mereka bisa melayani telpon masuk dan tamu yang datang ke studio kita dengan baik pula. Kita harus melayani mereka yang tergabung dalam divisi penjualan agar klien kita puas dengan service yang diberikan oleh sales team kita. Demikian juga dengan Office Boy / Office Girl, harus kita service agar mereka happy dan termotivasi untuk bisa melayani seluruh kantor dengan baik.
Saling melayani tidak hanya dari sikap dan tenaga tetapi juga dalam menciptakan sistem kerja yang lebih simpel namun tetap efektif. Jika saling melayani, saling membantu, saling mempermudah bisa terjadi dua arah antara bawahan dan atasan, tidak mustahil akan lahir suasana kerja yang kondusif dan kita bisa menjadi satu kelompok kerja yang berkualitas untuk memajukan radio kita. Dengan melayani anggota tim yang lain, mereka akan membantu kita untuk mencapai tujuan yang kita harapkan.

sumber: radioclinic.com

Monday, September 7, 2009

Serba salah.....kuncinya---sabar.......

"Ada seorang anak dan ayahnya yang sedang berjalan sambil menuntun seekor keledai.......orang-orang bilang: pandir bener tu anak dan ayahnya....keledai kok dituntun!!!

Kemudian sang anak dan ayahnya, keduanya menaiki keledai bersamaan......kata orang: jahat bener tu anak dan ayahnya....keledai kecil dinaiki dua orang sekaligus...dimana nalarnya!!!

Sang ayahpun turun dan menuntun keledai yang dinaiki sang anak seorang diri.....orang-orang berujar......si anak kok tega bener sich sama ayahnya.......orang tua suruh jalan kaki, dianya enak-enakan naik di atas!!!

Akhirnya si anak turun dan mempersilakan sang ayah naik ke punggung keledai. Merekapun berjalan melanjutkan perjalanannya.....orang-orang yang melihatnya berkata: tega bener si ayah yang berbadan besar, membiarkan anaknya berjalan menuntun keledai yang dinaikinya......

Kedua anak dan ayah tersebut akhirnya memanggul keledai di sisa perjalanannya......orang-orang belum lelah menghakiminya: anak dan ayah sama pandirnya, keledai kok dipanggul....bak barang tak
berkaki saja......!!!

Gubrakkk!?!?$#~
!?!?......bingung kan......serba disalahkan.....kuncinya sabar dan ikhlas.....

Itu adalah sepenggal cerita di awal penyampaian tausiah oleh KH. Fauzie Zuhrie, S.Ag dalam acara Buka Bersama Anak Yatim di masjid Al Ijtihad Jakarta.

Wednesday, April 9, 2008

Jangan Main-main dengan Tangung Jawab


"Tolong bangunkan yang tidur itu. Kalau mau tidur silakan di luar saja," tegur Presiden, sambil menunjuk pimpian daerah yang masih terlelap tidur.



Masih mengarahkan pandangan kepada peserta yang tertidur, Presiden yang tengah berbicara tentang penghematan anggaran menghentikan sejenak pidatonya untuk menegur yang tertidur:
"Pimpinan bagaimana dapat memimpin rakyat kalau tidur! Malu dengan rakyat yang memilih. Untuk mendengarkan pembicaraan untuk rakyat saja tidur! Jangan main-main dengan tangung jawab. Berdosa, bersalah dengan rakyat," ujarnya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghentikan pidatonya dalam pembekalan kepada peserta forum konsolidasi pimpinan daerah, bupati, wali kota, ketua DPRD kabupaten/kota di Gedung Lembaga Ketahanan Nasional, Jakarta, Selasa, 8 April 2008, karena mendapati peserta yang mendengarkan pidatonya tertidur.

Eksistensi manusia ada pada rasa tanggung jawabnya. Hidup adalah rangkaian tanggung jawab. Tangung jawab adalah keberanian menerima dan melaksanakan kewajiban dengan benar dan pantas. Mengantuk lalu tertidur adalah fitrah manusia, masuk dalam logika kebenaran, tapi apakah pantas jika dilakukan sembarang tempat tanpa kendali, secara manusia berakal. Akal sebagai mesin pengendali nafsu, sudah semestinya dominan dalam setiap langkah dan sikap individu dalam melaksanakan tanggungjawabnya. Setiap manusia akan datang kepada Sang Maha Pemilik untuk mempertanggungjawabkan setiap jengkal langkah hidupnya.

Tidak ada satu makhluk (berakal) pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan gang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (QS. Maryam: 93-95).

Tidak ada pembenaran apapun untuk lari dari tanggung jawab. “Anda tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya pada hari ini”. (Abraham Lincoln). Tidak jarang individu mencari-cari alasan sebagai pembenaran untuk menghindari tanggung jawabnya. Sudah menjadi tanggung jawab setiap karyawan, khususnya PNS, untuk masuk kantor tiap hari. Namun masih saja ada yang beralasan, “…..rumahku kan jauh, kalau mesti masuk kantor tiap hari, berat diongkos donk, tahu sendiri gaji kita sebulan berapa………”; ada lagi, “……..biasalah macet ….mana bisa kalau gw disuruh dateng pagi…..” Inilah realita disekitar kita, setitik noda bagi pengabdian, akibat ulah segelintir oknum yang abai atau tidak sadar akan tanggung jawabnya. Padahal sebagai abdi negara, apalagi pejabat, mereka adalah orang-orang terpilih yang dibayar oleh rakyat untuk melayani rakyat, memajukan negeri ini.

Mereka mempunyai hati yang tidak digunakan untuk mengerti. Mereka mempunyai mata yang tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga yang tidak digunakan untuk mendengar. Seperti binatang-lah mereka, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A'raf:179).

Tanggung jawab menunjukkan kualitas diri kita. Karena tanggung jawab, kita akan dipercaya orang, dihargai orang, dan tentu saja akan mendapatkan hak yang sepantasnya. Hidup ini akan sangat indah jika setiap pemimpin bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya, sebab sesungguhnya : “Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu bertanggung jawab atas kepemimpinan itu”. (Al-Hadits, Shahih Bukhari - Muslim)”.

Belum terlambat, mari kita berubah, “if you don’t change, you die”, Majulah Negeriku!!!